SANGATTA – Desa Singa Gembara, Kecamatan Sangatta Utara, berhasil mengukir prestasi gemilang di tingkat Provinsi Kalimantan Timur setelah diraihnya penghargaan Juara II dalam Penilaian Kinerja Desa Terbaik Pencegahan dan Penanganan Stunting Tahun 2026. Inovasi program “Dapur Stunting” serta efektivitas kerja Kader Pembangunan Manusia (KPM) menjadi pembeda utama dalam memangkas angka anak terindikasi stunting di wilayah tersebut.

Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMDes) Kutim menilai capaian ini sebagai bukti nyata keberhasilan integrasi antara alokasi Dana Desa (DD) dan pemanfaatan teknologi digital di tingkat akar rumput.

Kepala Bidang Pemberdayaan dan Sosial Budaya Masyarakat DPMDes Kutim, Muhammad Bashori, mengapresiasi kerja keras pemerintah desa setempat yang secara konsisten melakukan intervensi gizi terpadu hingga mampu menurunkan kasus stunting secara mendasar.

“Angka stunting di Desa Singa Gembara berhasil ditekan secara signifikan, dari yang semula tercatat 20 anak kini tersisa 10 anak,” ujar Muhammad Basori ditemui di ruang kerjanya, Senin (7/9/2026).

Menurut Bashori, penurunan kasus hingga 50 persen tersebut dicapai berkat program inovatif Dapur Stunting sebuah skema penyediaan makanan tambahan bergizi berbasis pangan lokal yang disiapkan secara berkala bagi balita terindikasi wasting dan stunting. Selain itu, kinerja KPM dalam pengawasan harian menjadi kunci utama keberhasilan intervensi tersebut.

“Keberhasilan ini tidak lepas dari optimalisasi peran Kader Pembangunan Manusia (KPM) yang dibiayai langsung melalui alokasi Dana Desa (DD). KPM secara rutin melaporkan pemantauan konvergensi layanan stunting secara real-time via aplikasi e-HDW (Electronic Human Development Worker),” jelasnya.

Melalui aplikasi e-HDW besutan Kementerian Desa PDTT, setiap perkembangan tumbuh kembang anak, pemenuhan gizi ibu hamil, hingga akses sanitasi warga terekam secara presisi. Hal ini memudahkan Pemkab Kutim dan pemerintah desa untuk mengambil tindakan intervensi yang tepat sasaran.

Capaian Desa Singa Gembara sekaligus mempertegas konsistensi Kabupaten Kutim dalam melahirkan desa-desa berprestasi di bidang penanganan stunting tingkat provinsi.

“Prestasi ini melanjutkan tren positif daerah. Pada tahun 2025 lalu, Desa Muara Bengkal Ilir juga sukses membawa harum nama Kabupaten Kutim dengan meraih Juara III pada kategori penilaian kinerja desa terbaik dalam pencegahan stunting tingkat provinsi,” ungkap Bashori.

DPMDes Kutim menargetkan keberhasilan Desa Singa Gembara dan Desa Muara Bengkal Ilir dapat menjadi acuan (benchmark) bagi 139 desa lainnya di Kutim. Skema pendampingan intensif serta alokasi khusus Dana Desa untuk penanganan stunting akan terus diperkuat guna mewujudkan target zero stunting di Kutim.(Adv)