SANGATTA — Di sebuah sudut Sangatta Utara, senyum kecil anak-anak menyimpan harapan besar bagi masa depan Kutai Timur (Kutim). Mengatasi persoalan tengkes atau stunting tidak bisa sekadar diselesaikan lewat semangkuk makanan tambahan di atas meja. Lebih dari itu, ia menuntut pembenahan mendasar pada hal yang kerap luput dari pandangan yaitu air bersih yang mengalir jernih dan bilik sanitasi yang layak di dalam rumah-rumah warga.
Kesadaran kolektif inilah yang menggerakkan langkah nyata melalui program bertajuk BERSATU (Bersama Atasi Stunting Secara Terpadu). Diinisiasi sejak akhir tahun 2025 lalu oleh Pemerintah Kabupaten Kutim, program ini kembali mencatatkan babak penting lewat penyerahan bantuan fasilitas sanitasi dan penyambungan air bersih yang dipusatkan di Ruang Rapat Perumdam Tirta Tuah Benua (TTB) Kutim, Selasa (11/8/2026).
PT Kaltim Prima Coal (PT KPC) hadir di garda depan bersama puluhan mitra kerja untuk memastikan Keluarga Rawan Stunting (KRS) mendapatkan hak dasarnya. Pada tahap penyerahan kali ini, sebanyak 13 Kepala Keluarga (KK) tersenyum lega setelah menerima uluran tangan berupa akses air bersih, pembangunan jamban sehat, hingga bilik mandi, cuci, kakus (MCK).
Acting Manager Community Empowerment PT KPC, Mohammad Yusuf, memaparkan bahwa langkah ini merupakan buah dari kolaborasi masif lintas instansi. Tidak berjalan sendiri, perusahaan merangkul 34 kontraktor mitra serta yayasan sosial untuk menggalang dana kemitraan hingga menyentuh angka sekitar Rp300 juta.
“Dana tersebut dialokasikan sebesar Rp150 juta untuk operasional Rumah Rehab Gizi (RRG) Sangatta Utara, sementara sisanya difokuskan langsung pada pemenuhan fasilitas air bersih dan sanitasi warga,” ujar Yusuf di sela-sela kegiatan.
Ia merinci, dari target keseluruhan, baru sebagian kecil yang rampung di tahap awal ini. Untuk akses air bersih misalnya, dari target besar 55 KK di Sangatta Utara, baru 5 KK yang tersambung bekerja sama dengan Perumdam Tirta Tuah Benua. Sisanya, sekitar 50 KK lagi, akan terus dikejar secara bertahap. Selain itu, program BERSATU juga mematok target ambisius berupa penyediaan 23 unit septic tank sehat serta 13 unit Rumah Layak Huni (RTLH).
Di balik angka-angka tersebut, tersimpan sebuah cita-cita besar yang digaungkan tanpa kenal lelah.
“Kami berharap pada 2030 mendatang, Kutai Timur sudah bebas dari stunting sehingga anak-anak dapat tumbuh optimal,” tegas Yusuf penuh optimisme.
Dukungan serupa datang dari perwakilan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD). Direktur Teknik Perumdam TTB Kutim, Galuh Boyo Munanto, menyambut hangat sinergi lintas sektor ini. Menurutnya, ketepatan sasaran menjadi kunci utama efektivitas program di lapangan agar bantuan tidak salah alamat.
“Berdasarkan pemutakhiran data pendampingan, sasaran penerima manfaat ini diprioritaskan bagi Keluarga Rawan Stunting untuk pencegahan awal. Kami akan terus berkolaborasi dengan jajaran manajemen di Sangatta Utara untuk memetakan kembali sisa target KK yang belum mendapat akses air bersih,” ungkap Galuh.
Acara serah terima yang turut dihadiri oleh jajaran Dinas PPKB Kutim, Penyuluh Keluarga Berencana (PKB), serta para keluarga penerima manfaat ini menegaskan satu hal: penanganan stunting di Kutim bukan lagi sekadar wacana di atas kertas. Melalui gotong royong yang melibatkan pemerintah, swasta, dan masyarakat, asa untuk memutus mata rantai stunting dari lingkungan terdekat kini menemukan jalannya yang paling terang.(*/Ltr1)

