SANGATTA – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) tengah memacu kesiapan akhir jelang kedatangan tim asesor Geopark Nasional untuk memverifikasi kawasan Sangkulirang-Mangkalihat. Salah satu titik sentral yang dipersiapkan adalah Galeri Budaya Kutim, yang digadang-gadang akan menjadi “pintu masuk” informasi bagi para peneliti maupun wisatawan.

Bupati Kutai Timur, Ardiansyah Sulaiman, turun langsung meninjau fasilitas tersebut di Sangatta, Jumat (3/7/2026) kemarin. Dalam kunjungan itu, ia menekankan pentingnya akurasi data dan narasi yang tersaji di dalam galeri agar pengunjung khususnya tim penilai mendapatkan gambaran utuh mengenai warisan arkeologi di wilayah tersebut.

“Galeri ini harus kita siapkan secara optimal karena akan menjadi pusat informasi Geopark Sangkulirang-Mangkalihat. Saya minta seluruh catatan dan kekurangan segera dibenahi, sehingga saat tim penilai datang, informasi yang tersaji sudah lengkap dan mudah dipahami,” ujar Ardiansyah di sela-sela tinjauannya.

Galeri Budaya Kutim sebenarnya bukan fasilitas baru. Bangunan ini telah berdiri sejak 2008 dan diresmikan oleh Bupati Kutim kala itu, Awang Faroek Ishak. Namun, selama bertahun-tahun fungsinya belum optimal. Kini, pemerintah daerah bertekad menjadikan galeri tersebut sebagai pusat edukasi, riset, hingga titik awal sebelum masyarakat atau akademisi terjun langsung ke lapangan.

Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutim, Ilham, menyatakan bahwa persiapan kini sudah mencapai tahap akhir. “Prinsipnya, apa yang diarahkan tim sudah kami penuhi. Masukan dari Bapak Bupati hari ini menjadi langkah final kami, terutama terkait detail keterangan pada setiap geosite agar lebih informatif,” tuturnya.

Di dalam galeri, tersimpan koleksi arkeologi bernilai tinggi dari kawasan Geopark Sangkulirang-Mangkalihat. Makmur, pengelola Galeri Budaya Kutim, mengungkapkan bahwa artefak yang dipamerkan memiliki rentang usia yang luar biasa tua.

“Koleksi di dalam galeri berusia sekitar 3.000 hingga 4.000 tahun. Sementara untuk situs luar, seperti gua dan kawasan pegunungan karst, usianya ditaksir mencapai 30.000 hingga 45.000 tahun,” jelas Makmur.

Ke depan, pengelola berencana melakukan kurasi tambahan dengan memamerkan lebih banyak artefak gua serta ragam motif gerabah purba untuk memperkaya khazanah informasi.

Langkah Pemkab Kutim ini tidak sekadar untuk memenuhi persyaratan penilaian Geopark Nasional. Lebih jauh, keberadaan galeri ini diharapkan menjadi instrumen edukasi bagi pelajar dan masyarakat umum. Setelah proses verifikasi selesai, pemkab berencana membuka akses galeri secara lebih luas dan menjalin kerja sama dengan berbagai institusi pendidikan untuk membumikan sejarah arkeologi daerah sebagai aset ilmu pengetahuan dan pariwisata berkelanjutan.(Ltr1)