SANGATTA – Penurunan debit air baku yang drastis pada sumber mata air Gunung Sekerat memaksa Perumdam Tirta Tuah Benua (TTB) Kutai Timur (Kutim) mengambil langkah taktis. Untuk memulihkan layanan air bersih bagi warga di Desa Benua Baru Ilir dan Desa Maloy, Kecamatan Sangkulirang, perusahaan daerah tersebut menggandeng PT Melati Bhakti Sejahtera (MBS), BUMD milik Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur.
Direktur Utama Perumdam TTB Kutim, Suparjan, menjelaskan bahwa pihaknya terpaksa melakukan skema penyediaan air baru akibat fenomena alam. Saat ini, debit dua sumber air utama, yakni mata air GMP dan Aphi-Aphi, merosot tajam menjadi hanya 15 liter per detik. Padahal, pada kondisi normal, debit kedua sumber tersebut mampu menyentuh 50 liter per detik.
“Kondisi ini menuntut kami untuk bergerak cepat. Kami telah menjalin kerja sama dengan PT MBS untuk mendapatkan pasokan air curah dari SPAM KEK Maloy,” ujar Suparjan, Minggu (5/7/2026).

Langkah kolaboratif ini telah diperkuat melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) pada 1 Juli 2026. Suparjan menargetkan, seluruh proses administrasi berupa Perjanjian Kerja Sama (PKS) definitif akan rampung dalam waktu dekat, sehingga distribusi air ke pelanggan di Desa Benua Baru Ilir dan Maloy dapat kembali mengalir normal bulan ini.
Saat ini, pihak PT MBS tengah berkoordinasi dengan PLN guna menambah daya listrik yang diperlukan untuk mengoperasikan Instalasi Pengolahan Air (IPA) di kawasan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Maloy. Penambahan daya ini menjadi krusial agar produksi air curah segera mencukupi kebutuhan warga.
Selain mengandalkan suplai dari KEK Maloy, Perumdam TTB Kutim juga melakukan pembenahan internal di sisi distribusi. Sepanjang Juli ini, mereka telah merampungkan rehabilitasi reservoir booster berkapasitas 1.400 meter kubik yang terletak di Desa Bumi Sejahtera, Kecamatan Kaliorang.
Fasilitas penampungan air berkapasitas jumbo ini diproyeksikan akan menjadi tulang punggung dalam menjaga kestabilan tekanan air ke wilayah hilir. Dengan adanya perbaikan infrastruktur ini, manajemen berharap distribusi air ke depannya akan jauh lebih andal dan tidak mudah terganggu oleh fluktuasi pasokan.
“Kami berkomitmen penuh untuk mengoptimalkan seluruh upaya, baik teknis maupun non-teknis. Hak masyarakat untuk mendapatkan air bersih adalah prioritas utama yang harus segera kami tunaikan tanpa hambatan yang berarti,” tegas Suparjan.
Langkah ini menjadi bentuk mitigasi jangka pendek sekaligus upaya peningkatan keandalan pelayanan air minum di wilayah Sangkulirang agar masyarakat tidak lagi terdampak oleh berkurangnya debit mata air di musim kemarau.(*/LTR1)

