Oleh: Yulius Alvian

SANGATTA – Di sebuah sudut Ruang Akasia Gedung Serba Guna Bukit Pelangi, usai gemuruh tepuk tangan peringatan Hari Bhayangkara ke-80, Rabu (1/7/2026) lalu, Kapolres Kutai Timur (Kutim) AKBP Fauzan Arianto, tampak berbincang santai dengan beberapa tokoh masyarakat. Tidak ada jarak yang kaku. Baginya, angka delapan dekade bukan sekadar catatan sejarah institusi, melainkan pengingat bahwa polisi adalah bagian dari napas masyarakat itu sendiri.

Dalam obrolan santai itu, Fauzan mengungkapkan sebuah filosofi sederhana namun mendalam yaitu polisi tidak bisa lagi berdiri di atas mimbar sebagai sosok yang tak tersentuh. Ia harus turun, mendengar keluhan, bahkan bersedia diprotes.

“Kritik itu vitamin,” ujarnya dengan senyum tipis. Bagi perwira menengah ini, setiap masukan dari warga mulai dari keluhan tentang pelayanan di polsek hingga kritik di media sosial adalah “bahan bakar” agar institusinya tetap relevan dan tidak kehilangan arah.

Memimpin sebuah kabupaten yang luasnya menyerupai gabungan Provinsi Jawa Barat dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) bukan perkara mudah. Geografi Kutim yang ekstrem dengan garis pantai mencapai 500 kilometer dan desa-desa yang tersembunyi di balik hutan menjadi tantangan harian yang harus dihadapi.

Di wilayah seperti Long Mesangat atau pesisir Sangkulirang, polisi bukan sekadar penegak hukum. Mereka adalah simbol kehadiran negara yang sering kali harus menempuh perjalanan berjam-jam demi memastikan warga merasa aman. Fauzan sadar, membangun kepercayaan di wilayah seluas ini membutuhkan lebih dari sekadar patroli rutin; ia butuh kehadiran fisik yang nyata.

“Kami terus menambah kehadiran personel. Tidak ada lagi wilayah yang boleh merasa ditinggalkan oleh pelayanan kepolisian,” tegasnya.

Dunia kini telah berubah. Tantangan di Kutim tidak lagi sebatas persoalan kriminalitas konvensional seperti pencurian atau konflik lahan. Kejahatan siber kini mengintai hingga ke pelosok desa melalui gawai warga. Penipuan daring dan judi online menjadi musuh baru yang senyap namun merusak.

Fauzan mengakui, melawan penjahat siber jauh lebih sulit daripada mengejar pelaku kejahatan di lapangan terbuka. Ia pun kini sibuk membekali anak buahnya dengan literasi digital dan pelatihan teknis. Baginya, peningkatan kualitas sumber daya manusia adalah investasi mati agar Polri tidak tertinggal oleh kemajuan teknologi.

Di balik segala beban tugasnya, Fauzan menyimpan kekaguman mendalam terhadap masyarakat Kutim. Ia melihat daerah ini sebagai “Indonesia Kecil” yang merawat keberagaman dengan luar biasa. Suku, agama, dan latar belakang budaya yang berbeda-beda melebur dalam semangat gotong royong yang kental.

Ia bercerita, sering kali ia merasa lelah karena intensitas pekerjaan yang tinggi, namun semangat masyarakat yang guyub membuatnya kembali berenergi.

“Kutim adalah miniatur Indonesia yang sesungguhnya. Kalau semua elemen bersinergi, daerah ini akan menjadi raksasa yang tangguh di Kalimantan Timur,” ucapnya penuh optimisme.

Saat ditanya tentang kekurangan institusinya selama setahun terakhir, Fauzan tak mencoba menutupi dengan kata-kata manis. Dengan rendah hati, ia memohon maaf kepada seluruh masyarakat jika ada pelayanan yang dirasa belum maksimal.

Baginya, menjadi polisi bukan tentang seberapa banyak kasus yang diungkap di atas kertas, melainkan tentang seberapa tenang hati masyarakat saat melihat seragam cokelat lewat di depan rumah mereka. Di usia yang ke-80 ini, Fauzan tidak sedang mengejar tepuk tangan, ia hanya sedang memastikan bahwa negara benar-benar hadir, melayani, dan melindungi dengan hati.