SANGATTA – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Kutai Timur (Kutim) menyoroti serius persoalan dasar pendidikan, termasuk temuan siswa di kelas tinggi yang belum lancar membaca. Hal tersebut diungkapkan oleh Kabid Pembinaan Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutim, Slamet Riyanto mewakili Kepala Disdikbud Mulyono, saat membuka Workshop Literasi dan Numerasi bagi guru tingkat dasar di Pelangi Room Hotel Royal Victoria, Senin (24/8/2026).
Kegiatan yang dijadwalkan berlangsung hingga Rabu (26/8/2026) ini diikuti oleh 153 peserta yang terdiri atas guru-guru perwakilan dari 18 kecamatan se-Kutim. Dalam arahannya, Slamet menekankan pentingnya peran pendidik dalam memastikan kompetensi literasi dasar peserta didik tuntas lebih awal.

Ia mengungkapkan keprihatinannya atas laporan yang diterima terkait adanya siswa kelas 5 SD yang belum mampu membaca lancar. Kondisi ini dinilai menjadi tantangan besar, terlebih menjelang pelaksanaan Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK) di jenjang tersebut.
“Tahun ini ada dua kasus di dua sekolah yang dilaporkan kepada kami, anak tidak naik kelas karena tidak bisa membaca. Padahal kelas 5 itu mau ANBK, bagaimana nanti kalau teks soal saja tidak bisa dibaca?” ujar Slamet di hadapan ratusan peserta workshop.
Menurutnya, masalah ketidakmampuan membaca di kelas tinggi seharusnya tidak lagi terjadi apabila penanganan dilakukan sejak dini. Ia menegaskan bahwa fase fondasi atau Fase A (kelas 1 dan kelas 2 SD) merupakan periode krusial penuntasan kemampuan baca, tulis, dan hitung (calistung).
Sebagai langkah antisipasi preventif, Disdikbud Kutim mendorong setiap satuan pendidikan untuk menerapkan sistem skrining berkala bagi siswa di kelas awal.
“Ke depan, kami tidak ingin mendengar lagi ada laporan anak naik kelas tinggi tapi belum bisa membaca. Kami harapkan setiap sekolah membuat skrining, mungkin di akhir kelas 1 atau semester awal kelas 2. Bagi siswa yang membutuhkan bimbingan ekstra, harus diberikan perlakuan khusus agar masalah ini bisa dicegah sejak awal,” tegasnya.
Selain isu literasi baca tulis, dalam kesempatan yang sama Slamet juga mengingatkan para tenaga pendidik untuk memperkuat kemampuan berpikir kritis (critical thinking) peserta didik, serta mengevaluasi penyusunan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) agar benar-arar selaras dengan tujuan pembelajaran yang berpusat pada kebutuhan siswa.
Workshop Literasi dan Numerasi ini diharapkan mampu meningkatkan kapasitas guru dalam merancang strategi pembelajaran yang adaptif, sehingga kualitas mutu pendidikan dasar di Kabupaten Kutim dapat terus meningkat secara merata.(Ltr1)

