SANGATTA – Bupati Kutai Timur (Kutim) Ardiansyah Sulaiman, menghadiri rapat koordinasi (Rakor) pengendalian inflasi tahun 2026 yang dilaksanakan oleh Kementrian Dalam Negeri Republik Indonesia (Kemendagri RI) secara virtual melalui zoom meeting. Kegiatan yang berlangsung di Ruang Zoom Diskominfo Staper pada Senin (6/07/2026) tersebut menjadi wadah krusial untuk menyinkronkan kebijakan pusat dan daerah dalam menjaga stabilitas ekonomi.

Rakor ini turut dihadiri oleh Ketua DPRD Kutim Jimmi, unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), Kepala BPKAD Kutim Ade Achmad Yulkafilah, Kepala Bapenda Kutim Syahfur, Kepala DTPHP Kutim Dyah Ratnaningrum, Kabag Ekonomi Setkab Kutim Suriansyah, serta beberapa perwakilan dinas terkait lainnya. Sinergi lintas sektor ini diharapkan mampu melahirkan mitigasi yang tepat sasaran.

Dalam arahannya pasca rakor, Bupati Ardiansyah menyampaikan rasa syukurnya atas perkembangan kemandirian pangan di tengah masyarakat melalui konsep pertanian terpadu. Menurutnya, gerakan yang melibatkan komunitas dan rumah tangga ini terbukti efektif dalam menjaga stabilitas pangan lokal.

“Di tengah-tengah masyarakat kita, kita sebenarnya bersyukur sudah mulai bergerak apa yang sering saya sebut dengan integrated farming, ada komunitas, kemudian ada rumah tangga,” ujarnya.

Lebih lanjut, Ardiansyah menjelaskan bahwa program integrated farming tidak hanya berfokus pada ketahanan pangan keluarga, tetapi juga menjadi motor penggerak ekonomi warga melalui pemanfaatan lahan pekarangan, seperti menanam sayur dan beternak ayam. Langkah ini selaras dengan program Dasawisma PKK serta Kampung Beragam di Sangatta Utara.

Guna memaksimalkan potensi tersebut, Ardiansyah menginstruksikan Disperindag, Dinas Ketahanan Pangan, dan Dinas TPHP untuk segera berkoordinasi dengan pihak kecamatan guna menginventarisasi program ini.

“Saya minta untuk mencoba melihat atau menginventarisasi sudah seberapa gencar program ini dilaksanakan oleh masyarakat,” tegas Bupati.

Selain ketahanan pangan, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutim juga tengah bersiap menghadapi ancaman fenomena alam cuaca ekstrem. Berdasarkan informasi dari BMKG, fenomena El Nino diprediksi akan mulai muncul dan mengancam sektor pertanian serta kelangsungan hidup para petani lokal.

“El Nino ini akan muncul di bulan, Juli ini, dan beberapa bulan kemudian. Bahaya yang dikhawatirkan akan melanda kita di Indonesia, khususnya Kutim, karena bisa berakibat fatal pada para petani terhadap ancaman kekeringan tersebut,” ucapnya.

Di sisi lain, rakor tersebut juga membahas program pemukiman dari Kementerian PKP terkait rehabilitasi rumah tidak layak huni. Menanggapi kuota pusat yang minim, Ardiansyah membeberkan bahwa Kutim sebenarnya telah memiliki program mandiri pembangunan Rumah Layak Huni berbasis sistem modular tipe 36 dengan target 1.000 rumah hingga tahun 2030, di samping program bedah rumah senilai Rp 60 juta per unit.

Sementara itu, Ketua DPRD Kutim Jimmi turut memberikan catatan penting mengenai potensi lonjakan inflasi yang dipicu oleh faktor musiman, salah satunya adalah mulainya tahun ajaran baru sekolah pada pekan depan yang dipastikan mengatrol konsumsi masyarakat.

“Kita melihat ke depan ini seminggu depan sekolah sudah mulai aktif kembali. Jadi, ini kemungkinan besar pengaruh MBG juga akan turut memberikan kenaikan harga-harga, termasuk minyak goreng, daging ayam, tomat, timun, dan ikan,” jelasnya.

Jimmi juga mengingatkan potensi kelangkaan ikan laut akibat faktor cuaca ekstrem dan angin selatan yang saat ini tengah dihadapi oleh para nelayan. Kondisi ini diprediksi akan mengalihkan konsumsi masyarakat ke ikan air tawar, yang pada akhirnya dapat menambah tekanan inflasi pada sektor pangan.

Melalui pelaksanaan rakor ini, pemerintah daerah menaruh harapan besar agar seluruh stakeholder dapat bergerak cepat dalam mengeksekusi langkah-langkah antisipasi inflasi, baik melalui perluasan operasi pasar maupun optimalisasi Gerakan Pangan Murah. Diharapkan stabilitas harga bapokting di Kutim dapat terus terjaga dengan aman, sehingga daya beli masyarakat tidak terganggu di tengah ancaman El Nino dan dinamika ekonomi tahun 2026.(kopi14/kopi13/Ltr1)