SANGATTA – Perusahaan Umum Daerah Air Minum (Perumdam) Tirta Tuah Benua (TTB) Kutai Timur (Kutim) mengklarifikasi adanya simpang siur data terkait capaian pelayanan air bersih di wilayah tersebut. Manajemen menegaskan bahwa seluruh data kinerja operasional yang mereka miliki berbasis pada data primer aktual di lapangan dan telah melalui proses verifikasi resmi oleh Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Perwakilan Kalimantan Timur.
Klarifikasi ini menanggapi kekeliruan data yang sempat mengemuka dalam Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) kepala daerah baru-baru ini, yang sempat menyebutkan angka capaian pelayanan sebesar 34 persen.
Direktur Utama Perumdam TTB Kutim, Suparjan, menjelaskan bahwa dalam mengukur kinerja pelayanan air minum, terdapat dua parameter utama yang digunakan oleh BPKP berdasarkan laporan evaluasi kinerja tahun buku sebelumya.
“Ada dua indikator yang harus dipahami secara terpisah. Pertama, capaian pelayanan teknis kita saat ini sudah berada di angka 80 persen. Angka ini menunjukkan tren pertumbuhan yang konsisten, di mana pada tahun-tahun sebelumnya berada di angka 78 persen kemudian naik ke 79 persen,” kata Suparjan di sela-sela kegiatan kegiatan pelepasan kontingen Perumdam TTB Kutim mengikuti PORDA PERPAMSI VII di Kubar, Kamis (18/6/2026).
Sementara itu, parameter kedua adalah cakupan pelayanan administrasi secara keseluruhan. Indikator ini dihitung dari rasio jumlah penduduk yang telah terlayani oleh Perumdam dibagi dengan total seluruh populasi penduduk di Kabupaten Kutim. Untuk indikator perluasan akses secara makro ini, capaian Perumdam TTB Kutim berada di angka 56 persen.
Suparjan memastikan bahwa seluruh data yang dirilis manajemen merupakan data riil yang dapat dipertanggungjawabkan akuntabilitasnya.
“Data kami adalah data primer hasil penghitungan langsung dan pencocokan aktual di lapangan, bukan sekadar asumsi. Kami telah meminta agar kekeliruan data input yang sempat muncul di LKPJ kemarin segera diperbaiki oleh dinas terkait,” ujarnya.
Sejalan dengan instruksi Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman yang meminta adanya percepatan pelayanan, Perumdam TTB Kutim terus mengejar target perluasan jaringan. Pada tahun ini, perusahaan daerah tersebut membidik penambahan distribusi ke 11 desa baru guna memperpendek kesenjangan akses air bersih di kawasan pedalaman.
Kendati fokus pada perluasan, Suparjan tidak menampik adanya dinamika teknis di lapangan yang sempat memicu kendala distribusi ke pelanggan akhir, terutama pada jam-jam puncak. Namun, ia memastikan langkah-langkah mitigasi risiko telah diaktifkan untuk menjaga kontinuitas aliran.
“Kami akui di beberapa titik aliran mungkin belum sepenuhnya deras pada siang hari, namun pasokan dipastikan tetap mengalir dan aman pada malam hari. Jika dibandingkan dengan beberapa daerah tetangga yang mengalami krisis bahan baku air, kondisi pelayanan di Kutai Timur relatif jauh lebih stabil dan terkendali. Kami terus berupaya meminimalkan dampak gangguan agar kenyamanan masyarakat tidak terganggu,” pungkas Suparjan.(Ltr1)

