SANGKULIRANG – Ketua Kelompok Tani (Poktan) Adat Malawai Kanaan Sejahtera Desa Tepian Terap Kecamatan Sangkulirang, Barnabas Gejer menyampaikan seruan bermakna dalam memotivasi masyarakat Dayak dan petani setempat agar berani mengubah nasib. Ia menegaskan, identitas petani yang tertera pada Kartu Tanda Penduduk (KTP) jangan sampai berbanding terbalik dengan realitas di lapangan yang hanya menjadi buruh tani, apalagi sampai tergiur menjual tanah milik sendiri.

“Menjadi petani yang tangguh dan berdaya saing, jangan karena KTP-nya petani besok jual tanah. Itu bukan ciri khas petani yang mandiri, melainkan ciri khas petani yang akan ketinggalan kereta,” tegas Barnabas dengan penuh semangat di hadapan warga dan para pejabat daerah yang hadir seperti Wakil Bupati Kutim Mahyunadi dan Anggota DPRD Kaltim Arfan dalam momen pesta panen padi gunung ke-20, Jumat (12/6/2026) sore kemarin.

Merespons kekhawatiran warga terkait status wilayah mereka yang berada di dalam suatu kawasan, Barnabas bersikap optimistis bahwa hal tersebut bukanlah penghalang bagi kemajuan. Ia mendorong perlunya rasa percaya diri yang tinggi, semangat, serta integritas untuk menggapai mimpi kelompok tani.

“Mumpung beliau (Wakil Bupati) ada di sini, kita sampaikan ini. Saya yakin beliau akan melihat dengan bijak bahwa status kawasan tidak menjadi penghalang bagi petani untuk menjadi mandiri dan tangguh,” ujarnya.

Ia pun berterima kasih atas kehadiran Wakil Bupati Mahyunadi yang bersedia meluangkan waktu untuk memotivasi langsung warga di wilayah perbatasan tersebut.

Barnabas juga mengungkapkan rasa bangganya terhadap posisi geografis Kampung Malawai saat ini. Sejak disahkannya undang-undang mengenai Ibu Kota Nusantara (IKN), pembangunan infrastruktur mulai menyentuh wilayah mereka secara langsung.

“Sebenarnya kami ini di jantung ibu kota. Kenapa? Pada waktu IKN keluar undang-undangnya dan positif menjadi Ibu Kota Nusantara, jalan negara sudah mulai dipikirkan lewat kampung kami,” tuturnya yang disambut riuh tepuk tangan warga.

Di tengah usai guyuran hujan, Barnabas menyampaikan apresiasi tinggi kepada seluruh warga dan undangan yang tetap bertahan mengikuti rangkaian acara. Ia menjelaskan bahwa acara adat tersebut bukanlah kegiatan seremonial biasa, melainkan agenda tahunan yang wajib dilaksanakan berdasarkan petunjuk spiritual sebagai bentuk ucapan syukur (Kensedan Tahun).

Tradisi ini diakui telah berjalan selama 20 tahun sejak pertama kali dirintis pada tahun 2006 di bekas peninggalan camp PT Wana Kaltim Lestari. Barnabas mengenang, pada awal pelaksanaannya ritual ini hanya diikuti oleh 15 orang, termasuk almarhum Pak Teguran selaku penggendang dan Ibu Kamsiah selaku penari sepuh di kampung tersebut.

Menutup sambutannya, Barnabas menyampaikan rasa syukur atas perkembangan wilayahnya dan berharap kepemimpinan Kepala Desa (Kades) saat ini, Pak Eko Sutrisno, dapat terus didukung oleh masyarakat untuk melangkah ke jenjang kepemimpinan yang lebih tinggi di masa depan.(kopi13/Ltr1)