SANGATTA – Akselerasi swasembada pangan nasional kini tidak lagi bertumpu pada pembukaan lahan baru. Di Kabupaten Kutai Timur (Kutim), sebuah terobosan dilakukan dengan mengonversi lahan bekas aktivitas pertambangan yang telantar menjadi area pertanian terpadu yang produktif. Proyek percontohan ini sukses mempertemukan berbagai sektor dalam satu visi penguatan pangan.
Realisasi komitmen hijau ini ditandai dengan agenda penanaman jagung di area ketahanan pangan eks tambang Pit J milik PT Kaltim Prima Coal (KPC), Sangatta, Sabtu (30/5/2026). Jalannya kegiatan ini ditinjau langsung oleh Kapolda Kalimantan Timur, Irjen Pol Endar Priantoro. Tidak sekadar memantau, dalam kesempatan tersebut juga disalurkan paket bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) serta sarana produksi kepada kelompok tani binaan Polres Kutim dan PT KPC.
Irjen Pol Endar Priantoro mengungkapkan, peninjauan langsung ini dilakukan karena Kutim dinilai sebagai wilayah percontohan dengan implementasi program ketahanan pangan paling progresif di bawah naungan Polda Kaltim.
“Apresiasi tinggi saya sampaikan kepada Polres Kutim yang telah menjadi pemantik (trigger) terbaik bagi jajaran Polda Kaltim. Kehadiran saya di sini adalah untuk memastikan secara konkret bahwa program ini tidak sekadar wacana, melainkan berjalan riil dan memberikan dampak nyata,” tegas Kapolda.
Ia menambahkan, evaluasi lapangan sangat krusial demi mengukur efektivitas program serta memetakan kendala yang ada agar dapat segera dicarikan solusi bersama.
“Kekurangan yang ditemukan akan kita benahi lewat diskusi dan saran konstruktif. Sebaliknya, poin-poin keberhasilan di sini akan kita dorong agar diadopsi oleh wilayah-wilayah lain,” imbuhnya.
Mantan Direktur Penyelidikan KPK ini juga menggarisbawahi bahwa peran Polri saat ini telah bertransformasi. Tidak hanya terfokus pada aspek keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas), Korps Bhayangkara juga ikut ambil bagian dalam menyukseskan program strategis nasional. Baginya, kunci utama keberhasilan mengelola lahan pascatambang terletak pada solidnya kolaborasi antarpihak.
Di tempat yang sama, Wakapolres Kutai Timur Kompol Ahmad Abdullah, yang hadir mewakili Kapolres Kutim AKBP Fauzan Arianto, menjabarkan bahwa proyek ini mengadopsi formula Pentahelix. Strategi ini menyatukan kekuatan kepolisian, jajaran pemerintah daerah hingga tingkat desa, sektor swasta, serta masyarakat lokal.
Sinergi tersebut diimplementasikan melalui metode produksi ramah lingkungan berbasis siklus tanpa limbah (zero waste cycle). Di dalam kawasan tersebut, sektor pertanian, peternakan, perikanan, hingga pengolahan pupuk organik saling terintegrasi. Konsep sirkular ini diproyeksikan mampu mendongkrak ekonomi warga sekitar tanpa merusak ekosistem.
Dukungan penuh juga mengalir dari Pemkab Kutim lewat Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Peternakan (DTPHP). Kepala Bidang Sarana, Prasarana, dan Penyuluhan DTPHP Kutim, Bohari, memastikan bahwa pihaknya akan mengawal ketat proyek ini melalui asistensi penyuluhan, suplai sarana prasarana, serta penguatan kapasitas kelembagaan tani.
“Saat ini penanaman jagung sudah memasuki fase kedua dan berjalan tanpa hambatan. Kontinuitas ini menjadi bukti nyata bahwa program ketahanan pangan di lahan eks tambang ini mendapat stimulan yang kuat dari seluruh pemangku kepentingan,” kata Bohari.
Bohari menegaskan, DTPHP Kutim sudah terlibat sejak awal perencanaan kawasan pertanian ini. Intervensi yang diberikan meliputi penempatan Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL), distribusi alat pertanian, dan penyediaan fasilitas pendukung lainnya guna mendongkrak produktivitas tanah.
Menutup penjelasan teknis, PPL Swarga Bara, Rudiana Jaya, merinci bahwa total lahan yang berhasil dioptimalkan saat ini telah mencapai belasan hektare.
“Dari total 14,8 hektare lahan yang telah dibuka, kini seluruhnya telah produktif ditanami jagung, ubi jalar, serta dikombinasikan dengan pengembangan sektor perikanan darat,” pungkas Rudiana.
Keberhasilan memoles lahan bekas tambang menjadi sektor pertanian bernilai tinggi ini membuktikan bahwa tantangan krisis pangan bisa dijawab lewat inovasi teknologi, pendampingan yang konsisten, dan kolaborasi multipihak. Model integrasi di Kutim ini diharapkan mampu memantik daerah lain untuk mereplikasi langkah serupa demi kedaulatan pangan Indonesia yang berkelanjutan.(kopi8/Ltr1)

