SANGATTA – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) lewat Dinas Pariwisata (Dispar) terus memacu transformasi sektor pariwisata dengan mengandalkan kekayaan tradisi lokal sebagai daya tarik internasional. Konsistensi penyelenggaraan festival budaya Lom Plai yang kembali masuk dalam kalender nasional menjadi bukti keseriusan daerah dalam menggeser ketergantungan ekonomi ke sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.
Tahun ini, Lom Plai kembali mengukuhkan posisinya dengan terpilih untuk ketiga kalinya dalam Kharisma Event Nusantara (KEN) setelah sebelumnya masuk pada edisi 2023 dan 2024. Pencapaian ini dipandang sebagai realisasi konkret dari program unggulan pemerintah daerah dalam memperluas jangkauan promosi seni dan budaya hingga ke level mancanegara.
Pelaksana Tugas Kepala Dispar Kutim Akhmad Rifanie, menjelaskan bahwa penguatan identitas pariwisata melalui festival berskala besar merupakan bagian dari strategi peningkatan daya saing daerah.
“Masuknya Lom Plai secara berturut-turut dalam KEN menunjukkan bahwa Kutai Timur mampu menghadirkan narasi budaya yang tidak hanya bermakna lokal, tetapi juga memiliki standar kualitas nasional dan internasional,” ujar Rifanie dalam siaran pers, Rabu (8/4/2026).
Kualitas penyelenggaraan Lom Plai tahun ini juga dipastikan mendapat perhatian serius dari pemerintah pusat. Pada puncak acara yang dijadwalkan berlangsung pada 22 April 2026, sejumlah pejabat dari Kementerian Pariwisata dipastikan hadir untuk melakukan peninjauan dan pendampingan teknis.
Delegasi pusat dipimpin oleh Asisten Deputi Event Daerah, Reza Fahlevi, beserta tim pendukung operasional dari kementerian. Kehadiran tim ini diharapkan dapat memberikan masukan strategis bagi pengembangan infrastruktur festival serta peningkatan manajemen acara di masa mendatang.
Menurut Rifanie, kehadiran perwakilan kementerian merupakan bentuk validasi atas potensi besar pariwisata Kutim.
“Ini menjadi motivasi bagi kami untuk terus meningkatkan kualitas kurasi event dan memperluas jangkauan promosi. Kehadiran kementerian memperkuat optimisme bahwa budaya lokal kita bisa bersaing di panggung global,” tuturnya.
Di luar aspek pelestarian budaya, festival ini dirancang sebagai motor penggerak ekonomi rakyat. Penyelenggaraan event besar secara rutin memberikan ruang bagi pelaku industri kreatif, seniman, hingga pelaku UMKM lokal untuk terlibat langsung dalam ekosistem pariwisata.
Pemerintah daerah berharap, melalui Lom Plai, citra Kutim sebagai destinasi wisata budaya unggulan semakin menguat. Dengan kemasan yang profesional, tradisi luhur masyarakat lokal tidak hanya menjadi simbol identitas, tetapi juga aset ekonomi yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus mendorong diversifikasi ekonomi di luar sektor ekstraktif.(Ltr1)

