SANGATTA — Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Kutai Timur (Kutim), Mulyono, menegaskan pentingnya langkah nyata pasca-sosialisasi dalam menuntaskan persoalan anak tidak sekolah (ATS) di wilayahnya. Penanganan ini difokuskan melalui verifikasi dan validasi lapangan berbasis data desa serta pengoptimalan jalur pendidikan nonformal.

Hal tersebut disampaikannya saat menutup kegiatan Bimbingan Teknis Sosialisasi, dan Advokasi Penanganan Anak Tidak Sekolah (ATS) di Ballroom Hotel Five Styles Kutai Permai, Jumat (7/8/2026) malam lalu yang diikuti sebanyak 83 guru dari 9 kecamatan mulai Sangatta Utara, Sangatta Selatan, Teluk Pandan, Rantau Pulung, Kaubun, Kaliorang, Sangkulirang, Bengalon dan Karangan.

Mulyono menjelaskan, akurasi data di tingkat desa menjadi kunci utama agar penanganan ATS dapat berjalan efektif. Melalui pelibatan operator desa dan pamong belajar, data riil anak yang tidak sekolah akan diverifikasi ulang, diinput ke dalam sistem, dan langsung dieksekusi jika ditemukan kekeliruan data di lapangan.

“Bapak dan ibu di desa tentu lebih paham dan tahu persis kondisi warganya. Dengan melibatkan operator desa, validasi ini bisa lebih maksimal sehingga data ATS bisa turun sesuai kondisi riil,” ujar Mulyono di hadapan para peserta.

Bagi anak-anak usia sekolah yang ditemukan tidak mengenyam pendidikan, Disdikbud Kutim menyiapkan dua jalur penanganan. Anak-anak yang masih memenuhi usia sekolah akan diarahkan untuk kembali bersekolah ke jalur formal. Sementara itu, bagi mereka yang telah melewati batas usia sekolah, akan difasilitasi melalui jalur pendidikan nonformal.

Mulyono juga menekankan bahwa kualitas dan legalitas pendidikan nonformal, seperti program kesetaraan Paket C, memiliki kedudukan yang setara dan diakui secara hukum dengan pendidikan formal. Ijazah dari jalur nonformal tersebut bahkan dapat dimanfaatkan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi.

Ia lantas mencontohkan capaian positif dari pemanfaatan beasiswa daerah di Kutim. Sebanyak 50 anak muda Kutim tahun ini berhasil lulus dan diterima di sejumlah perguruan tinggi negeri ternama di Indonesia, seperti Universitas Indonesia (UI), Universitas Gadjah Mada (UGM), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Padjadjaran (Unpad), Universitas Brawijaya, hingga Institut Teknologi Sepuluh November (ITS).

“Ini anak muda Kutim, mudah-mudahan ke depan akan jadi penyangga untuk anak muda lainnya agar bisa ikut program Beasiswa Perintis Daerah. Supaya pembangunan di Kutai Timur bisa lebih maksimal lagi,” tuturnya.

Sebagai bentuk apresiasi terhadap kinerja para operator desa, pendamping, dan pamong belajar di lapangan, Disdikbud Kutim berencana merumuskan regulasi khusus. Regulasi ini nantinya akan mengatur pemberian honorarium atau bentuk penghargaan lain yang bersumber dari dukungan program pemerintah daerah bagi para petugas yang aktif mengawal penanganan ATS.

Menutup arahannya, Mulyono berpesan agar kerja kemanusiaan dalam menyelamatkan masa depan anak-anak bangsa ini dapat dijalankan dengan ikhlas. Ia berharap upaya kolektif tersebut tidak hanya berdampak pada penurunan angka ATS, tetapi juga menjadi amal jariah bagi seluruh pihak yang terlibat.

“Sekali lagi, bapak dan ibu bisa menemukan anak tidak sekolah dan mengarahkan mereka mendapatkan pendidikan, suatu saat perantara ini bisa melahirkan pemimpin atau orang-orang sukses,” pungkasnya.(kopi13/Ltr1)