BENGALON – Lahan seluas belasan hektare di Kecamatan Bengalon, Kabupaten Kutai Timur (Kutim) mendadak menjadi pusat perhatian. Di tanah yang menyimpan sejarah panjang perenungan investasi selama lebih dari satu dekade itu, sebuah tiang pancang simbolis resmi ditegakkan. Bukan sekadar seremoni seremonial, prosesi groundbreaking PT Bumi Etam Chemical (BEC) Coal to Methanol Project pada Senin (31/8/2026) menandai babak baru transformasi ekonomi dari sekadar mengeruk kekayaan alam mentah menuju era pengolahan bernilai tambah tinggi.

Bagi Pemerintah Kabupaten Kutim, kehadiran proyek raksasa ini ibarat oase panjang yang dinanti. Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman menyambut hangat realisasi proyek yang diintegrasikan dengan kawasan strategis seperti Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Maloy Batuta Trans Kalimantan (MBTK) dan Batuta Chemical Industrial Park (BCIP). Harapannya besar, namun pesannya tegas yaitu proyek senilai triliunan rupiah ini tidak boleh berakhir sekadar menjadi monumen tiang pancang tanpa wujud nyata.

“Jangan sampai yang dipancang hari ini berikutnya akan menjadi tiang terus sampai selamanya. Ini semoga tidak terjadi di BEC ini,” pesan Bupati mengingatkan agar komitmen pembangunan berjalan konsisten hingga tuntas.

Di balik megahnya angka investasi, denyut nadi proyek ini sejatinya bertumpu pada seberapa besar tetesan manfaat yang dirasakan langsung oleh warga lokal.

Presiden PT Bumi Etam Chemical, Rio Supin, memaparkan bahwa pabrik hilirisasi batu bara ini diproyeksikan mampu memuntahkan kapasitas produksi hingga 2 juta ton metanol.

“Prioritas utamanya jelas yaitu mengamankan ketersediaan domestik sebelum melirik pasar ekspor,” jelasnya.

Namun, daya tarik terbesar bagi daerah bukan hanya pada angka produksinya, melainkan gelombang tenaga kerja yang menyertainya. Pada fase puncak konstruksi, proyek ini diperkirakan menyedot hingga 5.000 pekerja, dengan rata-rata 2.000 pekerja aktif. Sementara pada saat beroperasi penuh nanti, hampir 800 tenaga kerja terampil akan diserap untuk mengoperasikan fasilitas berteknologi tinggi tersebut.

Menyadari keterbatasan keahlian spesifik untuk industri pengolahan metanol di dalam negeri, pihak manajemen tidak tinggal diam. Rio memastikan pihaknya akan merangkul institusi pendidikan vokasi guna menggelar pelatihan khusus dari nol bagi putra-putri daerah. Langkah ini krusial agar kehadiran raksasa industri tidak menjadi menara gading yang asing bagi masyarakat sekitar

“Kutim selama ini dikenal sebagai salah satu lumbung energi nasional melalui sektor batubara dan perkebunan. Namun, ketergantungan pada komoditas mentah kerap membuat daerah rentan terhadap fluktuasi global. Kehadiran pabrik metanol di Bengalon diyakini menjadi katalisator pengubah permainan (game changer),” paparnya.

Ketika ribuan tenaga kerja tumpah ruah di Bengalon, roda ekonomi kerakyatan secara otomatis akan berputar. Sektor-sektor penyangga mulai dari akomodasi, transportasi, rantai pasok logistik, hingga warung-warung kecil milik pelaku UMKM di sekitar kawasan dipastikan akan kecipratan rezeki.

Perjalanan panjang selama 15 tahun kajian hingga akhirnya sampai pada tahap konstruksi membuktikan bahwa mimpi besar industrialisasi di tanah Kutai tidak pernah padam. Kini, mata masyarakat Kutim tertuju ke Bengalon menanti tuah dari tetesan metanol pertama yang kelak bukan hanya menghidupkan mesin-mesin pabrik, tetapi juga mendongkrak kesejahteraan hidup rakyat di Bumi Etam.(Adv)