SANGATTA – Malam itu, Rabu (18/02/2026) kemarin, udara Sangatta terasa lebih sejuk dari biasanya. Di balik dinding Masjid Al Amin yang berlokasi bersebelahan dengan Mako Polres Kutai Timur (Kutim), sebuah pemandangan syahdu tersaji. Ratusan jemaah, yang datang dari berbagai kalangan mulai dari personel kepolisian hingga warga sipil duduk bersimpuh dalam saf yang rapat.
Malam pertama salat Tarawih tahun ini bukan sekadar rutinitas ibadah tahunan, ia adalah momen kepulangan spiritual yang penuh khidmat. Suara takbir yang menggema di ruang luas masjid menandai dimulainya perjalanan panjang di bulan suci Ramadan dengan penuh rasa syukur.
Usai melaksanakan salat Isya berjamaah, suasana hening menyelimuti masjid saat Ustaz Ahmad Rozak berdiri di podium. Sosok yang akrab di lingkungan Polres Kutim ini memberikan kuliah tujuh menit (kultum) yang sarat makna.
Bagi Ustaz Ahmad, Ramadan adalah sebuah “pendidikan” atau madrasah bagi jiwa. Ia mengingatkan bahwa ibadah tidak hanya berhenti pada ritual di atas sajadah, tetapi juga harus membuahkan dampak sosial.
“Bulan Ramadan adalah bulan pendidikan. Mari kita isi dengan tadarus, sedekah, dan mempererat silaturahmi. Namun, jangan lupa, menjaga lingkungan agar tetap kondusif adalah bagian dari ibadah itu sendiri,” pesan Ustaz Ahmad di hadapan jamaah yang menyimak dengan saksama.
Ia menekankan bahwa menjaga Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Kamtibmas) adalah tanggung jawab kolektif. Lingkungan yang aman, menurutnya, adalah fondasi utama agar setiap muslim dapat meraih kekhusyukan dalam beribadah.
Di tempat terpisah, Kapolres Kutim AKBP Fauzan Arianto menyambut baik pesan-pesan menyejukkan yang disampaikan dalam kultum tersebut. Bagi Fauzan, sinergi antara ulama dan aparat bukan sekadar formalitas, melainkan kunci terciptanya kedamaian selama bulan suci.
“Polres Kutim berkomitmen memberikan rasa aman agar warga dapat menjalankan ibadah dengan tenang. Kami berharap masyarakat semakin sadar bahwa menjaga keamanan adalah tugas bersama,” tegas AKBP Fauzan.
Baginya, kegiatan pembinaan rohani seperti ini adalah jembatan untuk mempererat silaturahmi antara kepolisian dan warga Sangatta.
Malam kian larut, namun semangat di Masjid Al Amin tidak memudar. Saat jamaah satu per satu mulai meninggalkan masjid, ada harapan yang tersisa di antara langkah kaki mereka. Sebagaimana harapan AKBP Fauzan, pesan-pesan kebaikan malam itu diharapkan tidak hanya menguap di ruang ibadah, tetapi benar-benar mewujud dalam harmoni kehidupan sehari-hari di Kutim.(*/Ltr1)

