SANGATTA – Unit Pelaksana Teknis (UPT) Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Kabupaten Kutai Timur (Kutim) terus memperkuat perannya sebagai garda terdepan dalam pelayanan kesehatan publik. Pada Senin (2/2/2026) pagi, suasana di Aula Labkesda Kutim, Jalan AW Syahrani (Kanal 3), Sangatta Utara, tampak lebih ramai dari biasanya. Lembaga ini menggelar aksi sosial berupa pemeriksaan kesehatan gratis menggunakan metode Point of Care Testing (POCT) bagi masyarakat luas.
Langkah ini bukan sekadar rutinitas medis, melainkan simbol transformasi Labkesda Kutim dalam mendekatkan layanan laboratorium yang cepat, akurat, dan mudah dijangkau oleh warga. Melalui metode POCT, masyarakat dapat mengetahui kondisi kesehatan mereka secara real-time, yang menjadi langkah krusial dalam upaya deteksi dini penyakit tidak menular.
Dalam sambutannya yang penuh refleksi, Plt Kepala Labkesda Kutim, Gregorius Gabo, membagikan catatan perjalanan kariernya di lingkungan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kutim. Dedikasinya bermula dari penugasan di UPT Gudang Farmasi, berlanjut ke Puskesmas Teluk Lingga, hingga akhirnya mengabdi selama tiga tahun terakhir di Labkesda. Pengalaman panjang tersebut membentuk keyakinannya bahwa Labkesda bukan sekadar unit penunjang, melainkan instrumen vital daerah.
Gregorius menegaskan bahwa saat ini Labkesda Kutim telah memegang peranan strategis sebagai salah satu sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) unggulan. Potensi ini lahir dari keberagaman fasilitas yang ditawarkan, mulai dari pemeriksaan kesehatan klinis bagi individu hingga pengujian teknis kelayakan air baku bagi pelaku usaha dan industri.
“Kami memiliki visi besar agar Labkesda semakin maju dan profesional. Inovasi layanan yang kami berikan diharapkan mampu menjawab kebutuhan masyarakat akan fasilitas laboratorium yang mumpuni, sekaligus berkontribusi positif bagi kemandirian fiskal daerah,” ujar Gregorius dengan optimis.
Gayung bersambut, Kepala Dinkes Kutim dr Yuwana Sri Kurniawati, memberikan apresiasi tinggi terhadap pencapaian Labkesda yang kini telah resmi menyandang status Badan Layanan Umum Daerah (BLUD). Status ini merupakan tonggak sejarah baru yang memberikan fleksibilitas manajerial bagi Labkesda untuk berinovasi tanpa hambatan birokrasi yang kaku.
“Sebagai BLUD, Labkesda kini memiliki ruang gerak yang lebih luas untuk menjalin kerja sama strategis dengan berbagai pemangku kepentingan (stakeholders). Namun, fleksibilitas ini harus dibarengi dengan tanggung jawab besar. Seluruh langkah operasional wajib tetap berpijak pada prosedur standar dan payung hukum yang berlaku,” tegas dr Yuwana.
Yuwana juga turut menyoroti satu fungsi krusial Labkesda yang sering luput dari perhatian, yakni pengujian kualitas air minum. Menurutnya, air adalah kebutuhan dasar yang sangat menentukan kualitas hidup manusia. Validasi laboratorium yang ketat terhadap air konsumsi menjadi kunci utama untuk menjamin kesehatan masyarakat Kutaim dalam jangka panjang.
Melalui momentum pemeriksaan POCT gratis ini, Yuwana berharap muncul gelombang kesadaran baru di tengah masyarakat. Deteksi dini bukan lagi dianggap sebagai beban, melainkan gaya hidup untuk mencegah komplikasi kesehatan yang lebih berat di masa depan.
Kegiatan ini diharapkan menjadi pemantik bagi masyarakat untuk lebih memanfaatkan fasilitas Labkesda Kutim. Dengan peralatan yang modern dan status hukum yang baru, Labkesda berkomitmen untuk terus berkembang menjadi institusi yang tidak hanya mengejar target PAD, tetapi tetap mengedepankan sisi kemanusiaan melalui layanan yang inklusif dan berkualitas bagi seluruh warga Sangatta dan sekitarnya.(kopi11/kopi13/Ltr1)

