SANGATTA – Bupati Kutai Timur (Kutim), Ardiansyah Sulaiman, meminta para Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) di lingkup pemkab untuk menumbuhkan rasa bangga sekaligus menjaga teguh integritas sebagai pelayan publik.
Pesan mendalam tersebut diutarakan Ardiansyah saat menutup agenda Pelatihan Dasar (Latsar) CPNS Golongan III Angkatan I dan II Tahun 2026. Acara yang meluluskan puluhan aparatur baru ini berlangsung di Ruang Meranti, Kantor Bupati Kutim, pada Jumat (5/6/2026).
Seremonial penutupan ini turut diikuti secara virtual oleh Deputi Bidang Penyelenggaraan Pembinaan Kapasitas ASN LAN RI, Tri Widodo Wahyu Utomo. Hadir pula di lokasi Kepala BKPSDM Kutim, Misliansyah, beserta jajaran pejabat pemerintahan daerah.
Dalam pidatonya, Ardiansyah menekankan bahwa status sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) merupakan sebuah kehormatan yang menuntut tanggung jawab besar. Ia meyakini, kepuasan masyarakat hanya akan tercapai jika aparatur negara bekerja dengan ketulusan dan dedikasi tinggi.
Di hadapan para peserta, orang nomor satu di Kutim ini sempat bernostalgia mengenai perjuangannya saat mengikuti seleksi CPNS di era awal 1990-an. Kala itu, Ardiansyah berhasil lolos di dua formasi berbeda, yakni sebagai pengajar di bawah Departemen Agama dan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
“Waktu itu segalanya murni, tidak ada sistem titipan atau backing. Kelulusan benar-benar buah dari kemampuan diri sendiri. Menariknya, setelah dinyatakan lulus, saya harus bersabar hingga satu tahun lamanya sampai SK CPNS resmi terbit,” kenang Ardiansyah.
Sembari menunggu kejelasan SK, ia memilih untuk mandiri dengan bekerja di sebuah perusahaan pertambangan. Pengalaman hidup prihatin tersebut diakuinya telah membentuk mentalitas tangguh yang ia pelihara sejak bangku sekolah dasar. Berangkat dari filosofi hidupnya tersebut, Ardiansyah berpesan agar para CPNS yang telah menyisihkan banyak pesaing tidak menyia-nyiakan kesempatan ini.
Ia juga menyelipkan pesan humanis agar para abdi negara baru tersebut menjaga kekompakan tim dan menghindari gesekan personal di tempat kerja.
“Jangan mudah baper (bawa perasaan) atau gampang merajuk. Kita harus mengedepankan kerja sama yang sehat. Jangan menaruh noda di bejana yang putih bersih, dan jangan korbankan kepercayaan publik demi ego pribadi,” tegasnya.
Dari sudut pandang kelembagaan, Deputi Bidang Penyelenggaraan Pembinaan Kapasitas ASN LAN RI, Tri Widodo Wahyu Utomo, menyebut Latsar sebagai fondasi vital demi membenahi kualitas birokrasi di tanah air.
Tri Widodo mengingatkan kembali arahan Presiden RI Prabowo Subianto yang sempat menyentil performa pelayanan publik di Indonesia yang dinilai masih lamban dan berbelit-belit.
“Kita memproyeksikan dalam kurun lima hingga sepuluh tahun ke depan, Indonesia diisi oleh wajah-wajah birokrasi baru yang modern, cekatan, kompeten, serta berfokus pada pelayanan publik. Karakter itu mutlak dibentuk sejak dini melalui Latsar,” ujar Tri Widodo sembari mengapresiasi komitmen Pemkab Kutim dalam memajukan kualitas SDM aparaturnya.
Evaluasi Ketat BKPSDM: Satu Peserta Ditunda Kelulusannya
Sementara itu, Kepala BKPSDM Kutai Timur, Misliansyah, memaparkan laporan evaluasi akhir pendidikan kilat tersebut. Dari total 86 peserta yang mengikuti Latsar Angkatan I dan II, sebanyak 85 orang dinyatakan lulus dengan hasil memuaskan.
Namun, terdapat satu peserta yang kelulusannya terpaksa ditangguhkan akibat terganjal masalah laporan aktualisasi.
“Satu peserta kelulusannya harus ditunda karena dokumen proyek aktualisasinya dinilai tim penguji masih memerlukan revisi dan penyempurnaan,” urang Misliansyah.
Pihak BKPSDM memberikan tenggat waktu selama dua pekan bagi peserta tersebut untuk memperbaiki tugas akhirnya. Jika dalam batas waktu yang ditentukan seluruh poin evaluasi dari penguji berhasil dipenuhi, maka yang bersangkutan akan dinyatakan lulus. Sebaliknya, jika gagal, peserta tersebut terancam tidak lulus dalam Latsar periode ini.(kopi4/Ltr1)

