BENGALON – Di tengah masifnya ekspansi perkebunan monokultur di wilayah Kutai Timur (Kutim), sekelompok petani di Desa Persiapan Tepian Budaya, Kecamatan Bengalon, membuktikan bahwa sektor pangan lokal masih bertaji. Sebanyak 27 petani yang tergabung dalam kelompok tani setempat sukses menggarap komoditas padi gunung varietas Mayas di atas lahan seluas 20 hektare.
Kerja keras tersebut membuahkan hasil melimpah dengan total produksi menyentuh angka 50 karung beras dalam satu siklus panen. Sebagai bentuk rasa syukur atas keberhasilan ini, warga menggelar ritual adat Mecaq Undat. Acara tersebut dihadiri langsung oleh Wakil Bupati Kutai Timur, Mahyunadi, yang hadir mewakili Bupati pada Kamis (4/6/2026).
Dalam sambutannya, Wakil Bupati Mahyunadi memberikan apresiasi tinggi kepada para petani yang dinilai konsisten menjaga kedaulatan pangan di tingkat tapak. Menurutnya, pencapaian ini adalah sumbangsih nyata dalam mendongkrak ekonomi warga sekaligus menyokong ketahanan pangan nasional.
“Saya menaruh rasa bangga yang besar kepada para petani di Tepian Budaya. Saat banyak lahan beralih fungsi menjadi perkebunan besar, bapak dan ibu sekalian memilih bertahan merawat sawah demi menyediakan pangan bagi masyarakat. Ini bukti nyata bahwa kemandirian pangan itu diinisiasi dari desa,” tutur Mahyunadi.
Mahyunadi menambahkan bahwa misi swasembada pangan bukan sekadar beban pemerintah pusat, melainkan tanggung jawab daerah untuk memproteksi lahan pertanian dan memacu produktivitasnya. Ia berjanji pemerintah daerah akan terus mengucurkan stimulan, mulai dari penyediaan bibit berkualitas, alat mesin pertanian (alsintan), hingga program pelatihan berkala bagi petani.
Senada dengan Wabup, Camat Bengalon Harun Al Rasyid menyebut wilayahnya menyimpan potensi agraris yang besar, meski selama ini citra Bengalon lebih melekat dengan industri ekstraktif dan perkebunan sawit.
“Selama ini publik hanya mengenal Bengalon dari sektor tambang dan kebun. Padahal, tanah kita sangat subur dan produktif untuk pertanian. Keberhasilan di Tepian Budaya ini menjadi momentum bahwa sektor pangan kita sangat menjanjikan untuk digarap serius,” jelas Harun.
Harun berharap capaian kelompok tani ini bisa menularkan energi positif dan memotivasi kelompok tani lain di Bengalon untuk mengoptimalkan lahan mereka.
Rasa syukur juga diungkapkan oleh Yasmin, salah satu petani setempat. Ia menyampaikan terima kasih atas asistensi yang selama ini diberikan oleh jajaran pemerintah kabupaten maupun kecamatan.
“Bantuan berupa benih dan pendampingan lapangan dari pemerintah sangat meringankan beban kami di sawah,” aku Yasmin.
Kendati demikian, Yasmin berharap sokongan tersebut tidak berhenti di sini. Mewakili rekan-rekannya, ia berharap pemerintah daerah bisa memberikan bantuan lanjutan berupa pupuk, herbisida, modernisasi alsintan, serta edukasi teknologi pertanian mutakhir.
“Jika dukungan terus mengalir dan hasil panen makin melonjak, kami tentu akan jauh lebih bersemangat untuk menanam. Dengan begitu, pasokan pangan untuk masyarakat luas bisa terus terjaga,” pungkasnya.
Fenomena panen di Desa Tepian Budaya ini menjadi potret optimistis bahwa kedaulatan pangan di daerah dapat terjaga berkat sinergi yang solid antara ketekunan petani, komitmen kebijakan pemerintah, serta kesadaran kolektif dalam melindungi lahan produktif dari ancaman alih fungsi.(kopi4/Ltr1)

