SANGATTA — Upaya memperkuat ketahanan pangan nasional kini merambah ke wilayah pascatambang di Kabupaten Kutai Timur. Lahan yang dulunya menjadi area pengerukan batu bara, kini disulap menjadi ladang jagung produktif. Langkah transformatif ini mendapat amunisi baru setelah Kepolisian Daerah Kalimantan Timur (Polda Kaltim) menyerahkan bantuan sosial serta alat mesin pertanian (alsintan) kepada para petani di Pit J eks tambang PT Kaltim Prima Coal (KPC), Sabtu (30/5/2026).

Dorongan sarana modern ini ditargetkan mampu memangkas waktu pengolahan tanah sekaligus mendongkrak volume panen para petani lokal. Tercatat ada empat kelompok tani (poktan) yang menerima manfaat ini, yaitu Poktan Bakutor, Poktan Karya Etam Bersama 3, Poktan Tani Prima, dan Poktan Prima Mandiri.

Program pemulihan lahan berbasis pertanian ini dikawal ketat oleh Pemerintah Kabupaten Kutai Timur melalui Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Peternakan (DTPHP). Instansi ini bertugas memberikan pendampingan teknis agar bantuan yang dikucurkan tepat sasaran dan berdampak jangka panjang.

Mewakili Kepala DTPHP Kutim, Bohari selaku Kepala Bidang Prasarana dan Sarana Pertanian menyatakan komitmennya untuk mengawasi pemanfaatan bantuan pasca-penyerahan oleh Kapolda Kaltim Irjen Pol Endar Priantoro.

“Kami mendukung penuh agenda ini. Kehadiran sarana modern seperti cultivator dan alat tanam dorong (planter manual) ini sangat krusial agar konversi lahan bekas tambang menjadi sektor agraris yang berkelanjutan bisa berjalan optimal,” ujar Bohari.

Secara rinci, Polda Kaltim menyalurkan 50 paket sembako untuk pemenuhan kebutuhan pokok petani, di samping pemenuhan mesin pertanian penunjang program pangan desa.

Ketua Poktan Bakutor, Saul Lebang, mengapresiasi bantuan nyata tersebut. Menurutnya, dukungan modal alat dan logistik ini membakar semangat para petani untuk melampaui capaian sebelumnya.

“Terima kasih kepada Bapak Kapolda. Pada panen perdana lalu, kami berhasil mengumpulkan 19 ton jagung pipil. Dengan adanya alsintan baru serta bimbingan dari Dinas Pertanian, kami sangat optimis hasil panen fase kedua nanti bisa melonjak ke angka 30 ton,” kata Saul dengan nada optimistis.

Pada implementasi di lapangan, Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Desa Swarga Bara, Rudiana Jaya, mengungkapkan bahwa mesin pertanian ini bakal langsung dioperasikan di atas lahan siap tanam seluas 14,8 hektare, dari total target pengembangan wilayah 19,8 hektare. Operasional alat akan dilakukan secara kolektif oleh petani dari Desa Swarga Bara dan Singa Gembara.

“Mekanisasi dari Kapolda Kaltim ini datang di momen yang sangat pas. Minggu ini agenda kami adalah pembersihan lahan dan penyemprotan herbisida. Penggunaan alat tanam dorong baru ini dipastikan mempercepat metode tanam bergiliran (koyok). Target kami adalah mengejar momentum panen raya serentak pada September 2026 nanti,” urai Rudiana.

Fase seremonial tersebut diakhiri dengan penanaman benih jagung secara simbolis di area reklamasi. Kolaborasi multisektor antara kepolisian, pemerintah daerah, korporasi, dan elemen masyarakat ini menjadi potret nyata bahwa pemulihan lingkungan pascatambang tidak hanya memperbaiki ekosistem, tetapi juga mampu menghidupkan kedaulatan pangan yang mandiri. (kopi5/kopi4/kopi3/Ltr1)