SANGATTA – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) bersama Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Pemprov) menggelar Rapat Kerja Teknis Hilirisasi Potensi Komoditi dan Peluang Pasar Ekspor Tahun 2026, Rabu (15/4/2026) di Ruang Meranti Kantor Bupati Kutim. Kegiatan ini menjadi langkah strategis dalam menggali potensi unggulan daerah sekaligus mendorong peningkatan nilai tambah produk lokal agar mampu bersaing di pasar ekspor.

Rapat yang berlangsung secara tatap muka dan daring ini dihadiri sekitar 75 peserta, terdiri dari jajaran Perangkat Daerah (PD) provinsi dan kabupaten, pelaku usaha eksportir, perwakilan BUMDes, hingga Ekspor Center Balikpapan. Pemerintah Kabupaten Kutim diwakili oleh Asisten Perekonomian dan Pembangunan (Ekobang) Seskab Kutim Noviari Noor, sementara Pemerintah Provinsi Kaltim diwakili Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan UKM Heni Purwaningsih.

Dalam sambutannya, Asisten Ekobang Seskab Kutim Noviari Noor, menegaskan bahwa hilirisasi menjadi kunci utama dalam meningkatkan daya saing ekonomi daerah. Menurutnya, Kutim memiliki potensi besar di sektor pertanian, perkebunan, perikanan, hingga industri yang perlu diolah lebih lanjut agar tidak hanya dijual sebagai bahan mentah.

“Hilirisasi merupakan keharusan agar komoditas seperti pisang, kakao, aren, hingga nanas memiliki nilai tambah tinggi dan mampu menembus pasar ekspor secara berkelanjutan,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya integrasi data melalui Sistem Informasi Industri Nasional (SIINas) sebagai dasar pengambilan kebijakan. Data yang akurat terkait kapasitas produksi dan lokasi industri dinilai sangat menentukan keberhasilan program pengembangan ekspor.

Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan UKM Kaltim Heni Purwaningsih, menyampaikan apresiasi atas fasilitasi kegiatan ini. Pertemuan tersebut menjadi bagian dari upaya merumuskan program yang lebih fokus dan berdampak pada tahun 2027, di tengah keterbatasan fiskal pemerintah.

“Kita ingin program yang disusun benar-benar tepat sasaran dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat,” ujarnya.

Dalam forum tersebut, terungkap sejumlah komoditas unggulan Kutim yang berpotensi menembus pasar ekspor, di antaranya produk olahan amplang, pisang, kakao, gula aren, hingga hasil perikanan. Selain itu, peluang hilirisasi juga terbuka untuk komoditas seperti nanas, termasuk pemanfaatan serat daun nanas yang selama ini belum optimal.

Heni juga memaparkan sejumlah inisiatif hilirisasi, seperti pembangunan rumah produksi pakan ternak berbasis bahan lokal, termasuk jagung, bungkil sawit, dan limbah ikan. Langkah ini diharapkan mampu memperkuat rantai pasok industri peternakan sekaligus membuka peluang ekspor baru.

Keberadaan Ekspor Center turut menjadi perhatian dalam rapat tersebut. Lembaga ini siap memberikan pendampingan kepada pelaku usaha, mulai dari pencarian pasar hingga verifikasi calon pembeli melalui jaringan atase perdagangan di luar negeri.

Pemerintah Kabupaten Kutim sendiri menyatakan komitmennya dalam memetakan potensi unggulan daerah secara detail, memperluas akses pasar, serta memperkuat sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, dan lembaga pendukung.

Dari sisi ekonomi, Kutim menunjukkan tren positif pada sektor non-batubara. Pada tahun 2025, pertumbuhan ekonomi tercatat sekitar 1,22 persen secara keseluruhan, namun meningkat hingga sekitar 11 persen jika tidak memasukkan sektor batu bara. Hal ini menandakan sektor pertanian, industri, dan jasa mulai berkembang signifikan.

Melalui rapat ini, pemerintah berharap dapat merumuskan langkah konkret dalam pengembangan hilirisasi dan ekspor, sekaligus menyelaraskan visi antara pemerintah kabupaten dan provinsi dalam meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Rapat kerja teknis tersebut secara resmi dibuka dengan harapan menghasilkan kebijakan strategis yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi daerah dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Kutim.(kopi15/kopi13/Ltr1)