BATU AMPAR – Kebakaran hebat melanda kawasan permukiman padat penduduk di Desa Batu Timbau, Kecamatan Batu Ampar, Kamis (26/3/2026) kemarin. Dalam waktu sekitar empat jam, api meluluhlantakkan sedikitnya 85 unit rumah, menyebabkan 109 keluarga kehilangan tempat tinggal di tengah tantangan struktur bangunan yang didominasi material kayu.

Peristiwa yang terjadi mulai pukul 11.15 Wita ini meluas di tiga wilayah rukun tetangga, yakni RT 03, RT 09, dan RT 10. Berdasarkan taksiran awal, kerugian materiil akibat bencana ini mencapai Rp 25 miliar. Meski dampak kerusakan bangunan sangat masif, otoritas setempat memastikan tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut.

Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkartan) Kutim, Failu, menjelaskan bahwa api diduga kuat bermula dari lantai dua salah satu hunian warga di RT 03.

“Berdasarkan keterangan saksi di lapangan, titik api pertama kali terlihat di bagian atas rumah milik warga bernama Heri. Api kemudian menjalar dengan sangat cepat,” ujar Failu dalam siaran pers yang diterima Pro Kutim.

Ditambahkan Failu, kecepatan perambatan api dipicu oleh kombinasi faktor cuaca dan karakteristik wilayah. Selain embusan angin yang kencang, kerapatan antar-bangunan yang sangat tinggi serta penggunaan material kayu sebagai bahan utama dinding dan lantai rumah membuat api sulit dikendalikan secara manual.

Upaya pemadaman melibatkan dua unit mobil pemadam kebakaran dari pos kecamatan yang dibantu sepenuhnya oleh warga sekitar. Namun, karena keterbatasan armada dibandingkan luasnya area yang terbakar, petugas terpaksa melakukan langkah darurat berupa penyekatan area.

“Kami melakukan penyekatan menggunakan satu unit ekskavator milik perusahaan setempat. Langkah ini diambil untuk menciptakan jarak kosong (sekat bakar) agar api tidak terus merambat ke blok permukiman lainnya,” tambah Failu.

Api baru benar-benar dapat dijinakkan pada pukul 15.30 Wita setelah operasi pemadaman dan pendinginan dilakukan selama lebih dari empat jam. Kini, fokus pemerintah daerah beralih pada penanganan pengungsi. Sebanyak 109 kepala keluarga kini terpaksa mengungsi ke rumah kerabat maupun posko darurat yang mulai didirikan.

Bencana di Desa Batu Timbau ini kembali menggarisbawahi urgensi penataan permukiman di wilayah pelosok Kalimantan yang masih didominasi rumah panggung kayu. Kerentanan ini kerap menjadi faktor utama besarnya skala kerugian setiap kali terjadi kebakaran permukiman di wilayah tersebut.

Pihak kepolisian kini tengah melakukan penyelidikan lebih lanjut untuk memastikan penyebab pasti munculnya api dari rumah asal kejadian.(*/kopi13/Ltr1)