MUARA WAHAU – Deru kebersamaan masyarakat Dayak Wehea kembali membuncah di Desa Nehas Liah Bing, Kecamatan Muara Wahau. Dalam balutan tradisi Lom Plai 2025, warga dari berbagai penjuru berkumpul untuk melaksanakan ritual Lak Pesiay, sebuah tahapan sakral yang mengedepankan solidaritas antarwarga, Selasa (24/3/2026) lalu.

Suasana di lokasi tampak hidup dengan pembagian tugas yang apik. Kaum pria bahu-membahu mencari rotan dan kayu ke dalam hutan, sementara kaum perempuan mengumpulkan buah ketetet untuk keperluan prosesi. Tak hanya itu, tiap keluarga secara mandiri menyiapkan perlengkapan adat dan bahan pangan yang nantinya akan dilarung ke sungai menggunakan rakit.

Bendahara panitia, Emil Yani Dea, mengungkapkan bahwa esensi dari kegiatan ini adalah gerak bersama. Meski terpusat di Nehas Liah Bing, partisipasi aktif datang dari enam desa yang memiliki ikatan tradisi serupa.

“Masyarakat sangat antusias. Ada yang mendirikan pondok, ada yang memasak. Semua dikerjakan dengan semangat gotong royong,” ujar Emil di sela-sela kegiatan dalam siaran pers.

Salah satu momen ikonik dalam ritual ini adalah pemasangan “ledok”, yakni kain yang ditambatkan pada bambu besar. Simbol tersebut dikibarkan menghadap sungai dan akan tetap berdiri tegak hingga perayaan Lom Plai tahun berikutnya.

Meski kemeriahan Lak Pesiay dapat disaksikan khalayak, Emil menegaskan bahwa terdapat batasan tertentu dalam rangkaian Lom Plai. Beberapa prosesi, seperti pembersihan kampung dan puncak ritual, bersifat tertutup dan hanya boleh dijalankan oleh para tetua adat.

“Masyarakat luar atau pengunjung dipersilakan menyaksikan atau mengambil dokumentasi, namun tetap dari batas yang ditentukan. Ada bagian-bagian inti yang memang khusus untuk tetua adat saja,” tambahnya.

Tradisi tahunan ini bukan sekadar upacara rutin, melainkan bukti nyata betapa kuatnya solidaritas masyarakat setempat dalam menjaga warisan leluhur agar tak lekang oleh zaman.(*/kopi13/Ltr1)