SANGATTA – Sinergisitas antarlembaga penegak hukum menjadi pilar utama dalam menjaga stabilitas keamanan dan mendukung percepatan pembangunan di daerah. Semangat kolaborasi ini mengemuka dalam prosesi peralihan kepemimpinan di tubuh Kejaksaan Negeri Kutai Timur (Kutim) yang berlangsung khidmat di tengah suasana Ramadan.

Acara pisah sambut Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Kutim tersebut digelar di Ruang Meranti, Kantor Bupati Kutim, Bukit Pelangi, Rabu (11/3/2026). Momentum ini menandai berakhirnya masa bakti Reopan Saragih yang digantikan oleh Tutuko Wahyu Minulyo sebagai Kajari Kutim yang baru.

Kapolres Kutim AKBP Fauzan Arianto, yang hadir bersama jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), memberikan catatan khusus mengenai pentingnya kontinuitas kerja sama lintas institusi. Menurut Fauzan, harmonisasi antara Kepolisian dan Kejaksaan selama ini telah menjadi kunci dalam efektivitas penegakan hukum di wilayah hukum Kutim.

“Kami menyampaikan apresiasi mendalam atas dedikasi Bapak Reopan Saragih. Sinergi yang terbangun selama ini telah berkontribusi besar pada stabilitas keamanan wilayah. Kerja sama yang solid adalah fondasi bagi penegakan hukum yang berkeadilan,” ujar Fauzan.

Kehadiran lengkap unsur pimpinan daerah, mulai dari Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman, Wakil Bupati Mahyunadi, hingga Ketua DPRD Kutim Jimmi, mempertegas dukungan politik dan administratif terhadap institusi kejaksaan. Dalam tradisi pemerintahan daerah, pergantian pucuk pimpinan instansi vertikal sering kali menjadi momentum untuk menyelaraskan kembali visi pembangunan dengan aspek kepastian hukum.

Kepada Kajari yang baru, Tutuko Wahyu Minulyo, AKBP Fauzan menyampaikan harapan agar kolaborasi yang telah terjalin dapat terus ditingkatkan. Fokus pada pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) menjadi prioritas yang membutuhkan dukungan dari fungsi penuntutan yang kuat.

“Kami menyambut hangat kedatangan Bapak Tutuko Wahyu Minulyo. Harapan kami, sinergitas antara Polri, Kejaksaan, dan pemerintah daerah semakin diperkuat demi mendukung agenda-agenda pembangunan di Kabupaten Kutim,” tambahnya.

Nuansa kekeluargaan menyelimuti acara yang dirangkaikan dengan buka puasa bersama tersebut. Pemberian cendera mata kepada pejabat lama menjadi simbol penghormatan atas pengabdian yang telah diberikan kepada masyarakat “Bumi Untung Benua”.

Kegiatan ini pun mencerminkan sisi humanis dari para petinggi institusi di Kutim. Di balik formalitas birokrasi, kedekatan personal antar-pimpinan lembaga diharapkan mampu mereduksi hambatan komunikasi dalam penyelesaian berbagai persoalan hukum dan sosial di masa mendatang.(*/kopi13/Ltr1)