KALIORANG – Semangat berbagi di bulan suci Ramadan di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) tidak hanya mewujud dalam bentuk bantuan karitatif (kedermawanan), tetapi juga menyentuh aspek fundamental pembangunan sumber daya manusia. Melalui kolaborasi antara pemerintah daerah, Badan Amil Zakat (Baznas), dan sektor swasta, penyaluran bantuan kini diarahkan untuk menciptakan dampak jangka panjang bagi kesejahteraan masyarakat.
Hal itu mengemuka dalam agenda Safari Ramadan dan penyerahan bantuan “Paket Sembako Ramadan Bahagia” di Masjid Nurul Huda, Desa Bangun Jaya, Kecamatan Kaliorang, Senin (10/3/2026). Acara yang dihadiri Bupati Kutai Timur (Kutim) Ardiansyah Sulaiman didampingi Anggota DPRD Kutim yang hadir seperti Ardiansyah, Faizal Rachman dan Hasbollah ini menjadi potret nyata sinergi lintas sektor dalam menanggulangi kemiskinan dan meningkatkan kualitas pendidikan.
Plt Camat Kaliorang, Fitriyani, melaporkan bahwa dukungan sektor swasta dari sejumlah perusahaan tambang dan perkebunan, seperti PT Indexim Coalindo, PT Kalimantan Prima Persada, PT Kobexindo Cement (Singa Merah), dan PT Agrina, sangat signifikan. Selain bantuan operasional masjid sebesar Rp 15 juta di setiap titik safari, ribuan paket sembako juga disalurkan secara masif kepada warga yang membutuhkan.
“Khusus di Desa Bangun Jaya, terdapat 25.000 paket yang diserahkan secara simbolis. Ini adalah bentuk gotong royong semua pihak untuk membantu saudara-saudara kita menunaikan ibadah puasa dengan lebih tenang,” singkat Fitriyani dalam laporannya.
Di sisi lain, Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kutim membawa misi yang lebih jauh dari sekadar bantuan pangan. Ketua Baznas Kutim, Masnif Sofwan, mengungkapkan bahwa selain menyalurkan 4.500 paket sembako di 18 kecamatan, pihaknya kini tengah fokus pada program beasiswa berkelanjutan bagi mahasiswa dari keluarga tidak mampu.
Masnif memaparkan, saat ini terdapat empat mahasiswa asal Kutim yang menempuh studi di Mesir dengan pembiayaan penuh dari Baznas. Investasi pada pendidikan tinggi ini diharapkan mampu mencetak kader ulama dan intelektual yang kelak akan membangun daerah asal mereka.
“Anak-anak kita yang kuliah di Mesir menunjukkan semangat luar biasa. Harapan kami, sekembalinya mereka ke tanah air, mereka akan menjadi ulama yang menerangi umat. Kami mendorong Unit Pengumpul Zakat (UPZ) di tingkat desa untuk mulai memprogramkan hal serupa, minimal menguliahkan satu atau dua generasi setiap tahun,” tutur Masnif.
Pemanfaatan dana zakat, infak, dan sedekah (ZIS) secara profesional dinilai menjadi kunci transformasi ekonomi masyarakat. Masnif menekankan pentingnya bagi para aparatur sipil negara (ASN) dan muzaki untuk menyalurkan zakat melalui lembaga resmi agar dana yang terkumpul memiliki daya jangkau yang lebih luas.
“Jika dikelola secara profesional, zakat tidak hanya habis untuk konsumsi. Dana tersebut bisa digunakan untuk penguatan UMKM, renovasi rumah layak huni, hingga beasiswa. Target kita adalah mengubah mustahik (penerima zakat) menjadi munfik (pemberi infak), dan pada akhirnya menjadi muzaki (pembayar zakat),” tambahnya.
Bupati Ardiansyah Sulaiman memberikan apresiasi tinggi terhadap model kolaborasi ini.
“Keterlibatan aktif perusahaan melalui tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responsibility) yang disinergikan dengan program Baznas dan pemerintah daerah merupakan kunci dalam mempercepat pemerataan kesejahteraan di wilayah pesisir Kutim,” terangnya.
Kegiatan ditutup dengan berbuka puasa bersama yang hangat, memperlihatkan kuatnya ikatan sosial antara pemimpin, pelaku usaha, dan masyarakat di Kecamatan Kaliorang.(kopi13/Ltr1)

