SANGATTA – Menyambut geliat ekonomi warga di Bulan Suci Ramadan 1447 Hijriah, Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Kutai Timur (Kutim) bergerak cepat mengantisipasi kepadatan arus lalu lintas di kawasan Sangatta Lama. Fokus utama penataan terletak pada pengalihan rute bus angkutan karyawan guna memberi ruang bagi aktivitas pasar tumpah dan pemburu takjil.
Kebijakan ini merupakan hasil kesepakatan bersama antara Dishub Kutim, Sat Lantas Polres Kutim, dan manajemen PT Kaltim Prima Coal (KPC). Rekayasa dipusatkan di sekitar Gedung Buana Mekar, yang selama ini menjadi titik temu padatnya mobilitas pekerja dan pusat perbelanjaan musiman.
Kepala Seksi Lalu Lintas Dishub Kutim, Zulkarnain, menjelaskan bahwa keberadaan pedagang kaki lima yang memakan sebagian badan jalan saat sore hari membuat arus kendaraan besar sulit melintas secara normal. Sebagai solusinya, armada bus karyawan tidak lagi diizinkan melewati jalur utama yang terdampak pasar tumpah.
“Kami telah menyepakati titik putar baru bagi bus angkutan karyawan. Nantinya, kendaraan besar ini akan dialihkan ke jalur alternatif dan menggunakan area depan Gedung Buana Mekar sebagai simpul kendali untuk berputar balik,” ujar Zulkarnain.
Ditambahkan Zul sapaan akrabnya, aturan khusus ini akan diberlakukan setiap hari selama sebulan penuh masa Ramadan, mulai pukul 16.30 Wita hingga 18.15 Wita.
“Pada jam-jam krusial menjelang berbuka tersebut, personel gabungan akan disiagakan untuk mengatur sirkulasi keluar-masuk bus agar tidak terjadi penumpukan, menghalau kendaraan yang parkir liar di bahu jalan sekitar area pasar dan memastikan akses warga lokal tetap terbuka di tengah keramaian pedagang,” tegasnya.
Kemudian, agar pengguna jalan tidak bingung dengan perubahan rute ini, Dishub Kutim mulai memasang spanduk imbauan dan penunjuk arah di titik-titik strategis.
“Langkah ini diambil agar para sopir bus maupun pengendara pribadi dapat menyesuaikan rute perjalanannya lebih awal,” urainya.
Selanjutnya, pola rekayasa ini diharapkan menjadi solusi “win-win” bagi daerah.
“Di satu sisi, mobilitas industri tetap berjalan lancar, dan di sisi lain, denyut ekonomi rakyat melalui pasar takjil tetap bisa tumbuh tanpa memicu kemacetan total di jantung Sangatta Lama,” tutup Zul.(*/kopi13)

