Oleh: Yulius Alvian

SANGATTA – Bau tanah basah dan sisa material konstruksi masih samar terasa di udara, namun suasana di Jalan Gereja, Sangatta, Kutai Timur (Kutim), Sabtu (11/7/2026), dipenuhi sukacita yang meluap. Di hadapan ratusan jemaat, gedung baru Gereja Kerapatan Injil Bangsa Indonesia (KIBAID) Jemaat Sangatta akhirnya ditahbiskan.

Bagi banyak orang, ini hanyalah bangunan permanen dua lantai berukuran 13 x 28 meter. Namun bagi jemaat KIBAID, struktur kokoh ini adalah monumen perjuangan yang dibangun di atas fondasi doa selama 13 tahun bahkan jika ditarik lebih jauh, selama tiga dekade perjalanan iman mereka di tanah rantau.

Memutar waktu kembali ke awal 1990-an, Sangatta saat itu adalah tanah harapan bagi para pendatang. Di tengah hiruk-pikuk orang mencari kehidupan, lima kepala keluarga yang tergabung dalam KIBAID memulai persekutuan kecil dari rumah ke rumah.

“Dulu, kami tidak punya apa-apa. Jangankan gedung, tempat ibadah tetap pun tidak ada,” kenang salah seorang jemaat.

Kerinduan akan rumah Tuhan kemudian memicu mereka membangun gereja sederhana. Dindingnya bukan beton, melainkan karung bekas material tambang yang akrab disebut warga lokal sebagai “karorok”. Dengan atap seadanya dan lantai tanah, gereja berdinding karorok itu menjadi saksi bisu lahirnya pelayanan gereja di Sangatta pada 1992.

Perjalanan itu tidaklah mudah. Estafet pelayanan pun terus bergulir, melewati 18 gembala jemaat sejak Guru Injil Nurdin Nasir Palengka hingga hari ini. Setiap tetes keringat jemaat, mulai dari patungan sukarela hingga gotong royong di tengah badai pandemi Covid-19 yang sempat menghentikan pembangunan, kini terjawab sudah.

Wakil Bupati Kutim Mahyunadi yang hadir meresmikan gedung tersebut tampak terkesan dengan keteguhan jemaat. Dalam sambutannya, ia menekankan bahwa gereja bukan sekadar ruang ritual, melainkan “pabrik” pembentuk karakter bangsa.

“Visi kami adalah menciptakan SDM yang berakhlak mulia. Gereja inilah tempat yang tepat untuk menempa itu,” ujar Mahyunadi. Ia bahkan memberikan komitmen dukungan pemerintah terhadap rencana jemaat yang ingin mendirikan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di kompleks gereja tersebut.

Menurut Ketua Pembangunan Gereja, Benyamin Wempy, total dana sekitar Rp 7,9 miliar telah digelontorkan untuk menyelesaikan proyek ini. “Ini bukan hasil kerja satu atau dua orang, ini hasil pengorbanan kolektif,” ucapnya haru.

Gedung baru ini dirancang untuk masa depan. Lantai pertama yang difungsikan sebagai gedung serbaguna menjadi ruang bagi berbagai kegiatan sosial, sementara lantai kedua dengan kapasitas 500 orang menjadi ruang ibadah utama.

Jenny Tiondo, salah seorang jemaat, menatap gereja baru itu dengan mata berkaca-kaca. Baginya, setiap sudut gereja ini adalah pengingat akan kasih setia Tuhan.

“Dulu kami beribadah dengan dinding karorok, sekarang kami punya tempat yang layak. Harapan kami, gereja ini terus menjadi berkat, bukan hanya bagi kami, tapi bagi masyarakat luas di Kutai Timur,” tuturnya.

Di tengah kemegahan gedung baru yang diresmikan tepat pada HUT ke-90 Gereja KIBAID, pesan yang tersampaikan jauh melampaui arsitektur bangunan. Keberhasilan ini menjadi bukti bahwa di Kutim, keberagaman dan semangat gotong royong adalah kekuatan yang mampu melampaui segala tantangan zaman. Dari dinding karorok menuju kemegahan iman, KIBAID Sangatta telah membuktikan bahwa harapan, jika dirawat dengan ketekunan, akan selalu menemukan jalannya untuk berdiri tegak.