BENGALON — Debur ombak Pantai Sekerat di Kecamatan Bengalon, Kutai Timur (Kutim), seolah berpadu dengan doa-doa yang dipanjatkan dalam ritual adat Belian Semegah. Di bawah langit yang cerah, Sabtu (12/7/2026), sebuah replika naga diarak menuju pesisir. Prosesi “Mengulur Naga” ini menjadi puncak dari Festival Sekerat Nusantara V yang menutup tujuh hari penuh perayaan budaya di desa tersebut.

Bagi warga Desa Sekerat, ritual ini bukan sekadar seremoni tahunan. Ia adalah napas yang menjaga identitas mereka tetap hidup di tengah pesatnya derap pembangunan di Kabupaten Kutai Timur.

“Budaya bukan sekadar warisan masa lalu, tetapi fondasi pembangunan masa depan,” ujar Pangeran Hario Noto Negoro, yang hadir mewakili Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, Sultan Aji Muhammad Arifin.

Ia menekankan pentingnya empat pilar kehidupan bagi masyarakat Kutai: adat, adab, berbudaya, dan beragama. Menurutnya, ketika keempat nilai ini dijaga, karakter masyarakat akan kokoh, dan pembangunan daerah pun akan memiliki kompas yang jelas.

Kutim kini dikenal sebagai salah satu mesin penggerak ekonomi Kalimantan Timur melalui sektor pertambangan dan manufaktur. Namun, di balik riuhnya deru mesin industri, Pemerintah Kabupaten Kutai Timur berusaha menyeimbangkan langkah dengan terus memupuk nilai-nilai tradisional.

Bupati Kutim, Ardiansyah Sulaiman, mengungkapkan kebanggaannya terhadap Desa Sekerat. Bersama Desa Marukangan, Sekerat menjadi garda terdepan dalam merawat ritual adat Kutai secara konsisten.

“Pemerintah memberikan apresiasi setinggi-tingginya bagi desa yang kukuh mempertahankan tradisi leluhur. Kami ingin semangat ini menular ke kecamatan lain, agar ritual adat tidak hilang ditelan zaman,” ujar Ardiansyah di sela-sela penutupan festival.

Ia juga menyinggung pentingnya menjaga ekosistem alam, merujuk pada kawasan Sangkulirang-Mangkalihat yang memiliki jejak sejarah peradaban manusia puluhan ribu tahun silam.

“Alam boleh dimanfaatkan untuk kesejahteraan, namun kelestariannya adalah harga mati,” tegasnya.

Festival yang berlangsung sejak 6 Juli 2026 ini bukan hanya menampilkan ritual sakral. Sepanjang pekan, desa ini menjadi ruang pertemuan bagi UMKM, lomba permainan tradisional seperti menyumpit, hingga panggung seni yang mempererat tali persaudaraan antarwarga dan pendatang.

Ketua Panitia Festival Sekerat Nusantara V, Muhammad Yafi Akbar, berharap festival ini terus tumbuh melampaui batas wilayah.

“Kami ingin event ini menjadi ikon kebanggaan Kutai Timur yang diakui secara nasional maupun internasional,” ungkapnya dengan optimistis.

Saat prosesi “Mengulur Naga” perlahan menuju titik akhir, pesan yang dibawa begitu kuat: budaya adalah jangkar. Meski ekonomi terus melaju ke depan, masyarakat Kutim ingin tetap berpijak pada akar sejarah yang membentuk mereka.

Sebelum meninggalkan lokasi, pihak Kesultanan Kutai Kartanegara memberikan kabar gembira bagi para pecinta budaya yaitu sebuah agenda besar, Erau, akan segera digelar di Tenggarong pada September mendatang, disusul perayaan Erau Tijak Tanah di Kutim pada Oktober nanti. Sebuah undangan bagi publik untuk kembali melihat, bagaimana tradisi tetap hidup dan relevan, bahkan di era modern sekalipun.(*/Ltr1)