SANGATTA – Sekolah Tinggi Pertanian (STIPER) Kutai Timur (Kutim) resmi melantik Pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) STIPER Kutim periode 2025–2026. Pelantikan berlangsung khidmat di Ruang Tempudau Kantor Bupati Kutim, Selasa (9/12/2025) kemarin, dan dirangkai dengan Dialog Daerah bertema “Hutan Kutim dalam Genggaman” sebagai wujud kepedulian mahasiswa terhadap isu lingkungan hidup.
Prosesi pelantikan diawali dengan pembacaan Surat Keputusan Ketua STIPER Kutim oleh Wakil Ketua III Bidang Kemahasiswaan, Kerja Sama, dan Alumni Imanuddin. Berdasarkan Surat Keputusan Ketua STIPER Kutim Nomor 029/SK/KT KM/STIPER/XII/2025, ditetapkan susunan pengurus BEM STIPER Kutim periode 2025–2026.
Dalam SK tersebut ditegaskan bahwa mahasiswa sebagai bagian dari civitas akademika memiliki peran strategis dalam menumbuhkembangkan potensi kepemimpinan, serta perlu dikoordinasikan dalam sebuah wadah organisasi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM). Pengurus BEM diharapkan mampu menjaga keamanan, ketertiban, serta suasana kondusif bagi proses belajar mengajar di lingkungan kampus, serta bertanggung jawab langsung kepada Ketua STIPER Kutim.
Adapun susunan pengurus BEM STIPER Kutim periode 2025–2026 yakni Presiden BEM Yosua Sihotang, Wakil Presiden BEM Yogi Oktanis, Sekretaris Umum BEM Dwi Mawar Ningsih, Bendahara Umum Elisa Juman, Menteri BEM Pengembangan Sumber Daya Mahasiswa (PSDM) Helvia Marten Diang, Menteri BEM Hubungan Masyarakat Muhammad Yusuf, Menteri BEM Media dan Publikasi Ratnawati, serta Menteri BEM Advokasi dan Propaganda Teresia Agustina El, beserta jajaran anggota.
Pelantikan dilakukan langsung oleh Kepala STIPER Kutim Dr Ismail Fahmy Almadi, yang dilanjutkan dengan pembacaan dan penandatanganan fakta integritas oleh seluruh pengurus BEM. Dalam fakta integritas tersebut, pengurus BEM berkomitmen menjunjung tinggi nilai Ketuhanan Yang Maha Esa, Pancasila, dan Undang-Undang Dasar 1945, patuh terhadap peraturan perundang-undangan, menolak praktik kolusi, korupsi, dan nepotisme, serta menghindari keterlibatan politik praktis. Selain itu, pengurus BEM juga bertekad memajukan organisasi secara dinamis, bekerja sama dengan civitas akademika, dan menjaga nama baik almamater STIPER Kutim.
Kegiatan pelantikan turut dihadiri sejumlah narasumber dan tamu undangan, di antaranya Ketua DPD Partai Demokrat Kutim Ordiansyah, perwakilan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kutim Bambang Wahyudi, perwakilan Aliansi BEM se-Kalimantan Timur (Kaltim), pengurus Ikatan Alumni, pimpinan organisasi kemahasiswaan, serta mahasiswa STIPER Kutim.
Dalam sambutannya, Presiden BEM STIPER Kutim Yosua Sihotang menyampaikan bahwa pelantikan bukan sekadar seremoni, melainkan awal dari tanggung jawab besar mahasiswa dalam mengawal isu-isu strategis daerah, khususnya lingkungan hidup. Menurutnya, kondisi hutan di Kutim saat ini tidak dalam keadaan baik-baik saja, terbukti dengan meningkatnya bencana alam seperti banjir di beberapa kecamatan, termasuk Wahau dan Karangan.
“Melalui dialog daerah dengan tema Hutan Kutim dalam Genggaman, kami mahasiswa menegaskan sikap untuk tidak tinggal diam. Kami akan terus mengawal kebijakan pemerintah terkait lingkungan dan mendorong lahirnya gagasan serta aksi nyata demi keberlanjutan alam Kutim,” tegas Yosua.
Sementara itu, perwakilan Aliansi BEM se-Kaltim Bidang Lingkungan dan Kehutanan, Deo Datus Feran Kacaribu, menyampaikan apresiasi atas tema dialog yang diangkat. Ia menilai persoalan deforestasi, aktivitas tambang, dan perkebunan sawit di Kalimantan, khususnya Kutim memiliki dampak serius terhadap lingkungan dan kehidupan masyarakat.
Ia menyoroti fenomena banjir yang kerap melanda wilayah pedalaman Kutim setiap tahun, yang menurutnya perlu mendapat perhatian serius dari semua pihak.
“Kami berharap BEM STIPER Kutim dapat bersinergi dengan Aliansi BEM se-Kaltim untuk mengawal isu lingkungan, termasuk melakukan investigasi langsung ke lapangan dan menyusun rekomendasi kebijakan yang konstruktif,” ujarnya.
Melalui pelantikan dan dialog daerah ini, diharapkan terbangun sinergi antara mahasiswa, akademisi, dan pemerintah daerah dalam menjaga keseimbangan antara pembangunan dan kelestarian lingkungan. Kegiatan ini sekaligus menegaskan peran mahasiswa sebagai agen perubahan yang kritis, solutif, dan bertanggung jawab bagi masa depan Kutim.(kopi15/kopi13)

