SANGATTA – Kontestasi pemilihan Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kabupaten Kutai Timur (Kutim) mulai memasuki babak krusial. Hingga batas akhir pengembalian formulir pendaftaran pada Rabu (29/4/2026) lalu, tiga nama resmi mencuat sebagai bakal calon yang akan bertarung dalam Musyawarah Kabupaten (Mukab) mendatang. Ketiga figur tersebut adalah Sesthy S Bumbungan, Ahlang Edi, dan Angga Redi Niata.

Sesthy S Bumbungan, salah satu bakal calon, menegaskan bahwa keikutsertaannya dalam bursa pemilihan ini didasari atas keinginan untuk melakukan reformasi internal dan penguatan posisi Kadin sebagai mitra strategis pemerintah daerah. Saat ini, panitia tengah melakukan verifikasi berkas sebelum mengumumkan calon yang memenuhi syarat untuk maju ke tahap Mukab pada 6-7 Mei mendatang.

Dalam pemaparan visinya, Sesthy menekankan pentingnya menjadikan Kadin Kutim sebagai motor penggerak ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan. Ia menyoroti potensi besar di sektor perkebunan, peternakan, dan perikanan yang menurutnya harus menjadi pilar utama pertumbuhan ekonomi di luar sektor pertambangan yang selama ini mendominasi.

“Kadin harus menjadi rumah besar bagi semua pelaku usaha tanpa terkecuali. Saya ingin semua ‘warna’ ada di sana, tidak hanya didominasi segelintir kelompok. Fokus kami adalah memastikan pengusaha lokal tidak hanya menjadi penonton, tetapi terlibat aktif dalam rantai pasok (supply chain) industri besar di daerah kita,” ujar Sesthy dalam siaran pers di Sangatta.

Selain itu, pemberdayaan UMKM melalui digitalisasi usaha dan perluasan jaringan pasar menjadi agenda prioritas. Menurutnya, UMKM yang tangguh dan inovatif merupakan fondasi ekonomi yang paling tahan terhadap gejolak.

Sesthy tidak menampik adanya hambatan komunikasi antara Kadin dan pemerintah daerah pada periode sebelumnya. Kondisi ini dinilai mengakibatkan beberapa program strategis tidak berjalan optimal. Ia pun berkomitmen untuk mengembalikan fungsi Kadin sebagai jembatan kebijakan antara pelaku usaha, stakeholder, dan pemerintah.

“Kadin berfungsi sebagai mitra pemerintah untuk memastikan kebijakan daerah maupun pusat selaras dengan kebutuhan di lapangan. Kita perlu memperkuat advokasi kebijakan ekonomi agar tercipta iklim usaha yang kondusif,” tambahnya.

Di sisi internal, Sesthy menargetkan reformasi struktur organisasi agar setiap bidang dapat berfungsi secara mandiri dan aktif. Salah satu rencana konkret yang ia usung adalah pengadaan kantor sekretariat Kadin yang representatif sebagai pusat diskusi dan pertukaran ide para pengusaha.

“Bagaimana kita mau berdiskusi dan bertukar pikiran jika wadah fisiknya saja tidak ada? Sekretariat yang representatif adalah fokus utama saya untuk membangun marwah organisasi,” pungkasnya.

Penyelenggaraan Mukab Kadin Kutim kali ini diharapkan menjadi momentum kebangkitan ekonomi daerah, di mana keterlibatan pengusaha lokal dalam hilirisasi potensi unggulan menjadi kunci utama kemandirian ekonomi “Tuah Bumi Untung Benua”.(Ltr1)