SAMARINDA – Di tengah kemegahan perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-69 Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim), sebuah sosok tangguh dari pedalaman Kutai Timur (Kutim) mencuri perhatian. Yuliana Wetuq, perempuan Dayak Wehea yang mendedikasikan hidupnya untuk rimba, resmi dianugerahi Piagam Penghargaan Tokoh Berjasa Bidang Lingkungan Hidup, Jumat (9/1/2026).

Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Wakil Gubernur Kaltim, Seno Aji, di Gedung Paripurna DPRD Kaltim. Apresiasi ini menjadi pengakuan negara atas keteguhan Yuliana dalam menjaga Hutan Lindung Wehea selama lebih dari 20 tahun.

Sebagai Koordinator Petkuq Mehuey (Penjaga Hutan), Yuliana bukanlah sosok yang bekerja di balik meja. Sejak tahun 2004, ia rutin menembus belantara demi memastikan kawasan hutan tropis di perbatasan Kutim dan Berau tersebut tetap utuh.

Setiap bulan, Yuliana memimpin patroli sebanyak dua hingga empat kali. Dengan mengendarai sepeda motor hingga berjalan kaki menyusuri jalan setapak yang terjal, ia berdiri di garda terdepan melawan ancaman pembalakan liar (illegal logging, perburuan satwa dilindungi dan pertambangan emas ilegal yang merusak ekosistem sungai.

“Kami menjaga hutan ini agar tidak punah. Sekarang hutan sudah hampir habis, di mana-mana banjir. Jika hutan ini rusak, dampaknya bukan hanya kami di Wehea yang merasakan, tapi semua,” ungkap Yuliana penuh haru usai menerima penghargaan.

Peran Yuliana melampaui tugas pengamanan. Ia bertindak sebagai jembatan ilmu bagi peneliti dan wisatawan mancanegara. Di tangannya, Hutan Wehea menjadi laboratorium alam tempat pendataan satwa liar (fenologi) dan pemasangan kamera pemantau (camera trap) dilakukan.

Ia juga aktif melibatkan kaum perempuan dan generasi muda melalui kegiatan kreatif, seperti pelatihan membatik menggunakan pewarna alami dari tumbuhan hutan. Bagi Yuliana, menjaga hutan adalah menjaga jati diri budaya Dayak Wehea.

Meski kini namanya harum sebagai pahlawan lingkungan, Yuliana tidak menampik adanya tantangan berat. Ia menyoroti sulitnya akses jalan menuju Hutan Wehea yang menghambat potensi wisata edukasi.

Ia menitipkan pesan penting kepada pemerintah untuk memberikan dukungan nyata, di antaranya perbaikan infrastruktur jalan dan bantuan alat transportasi operasional, dukungan dana untuk pengamanan satwa dan kawasan secara berkelanjutan dan pengesahan Masyarakat Hukum Adat agar perlindungan terhadap wilayah ulayat memiliki payung hukum yang kuat.

Penghargaan ini menjadi pengingat bagi publik bahwa di balik segarnya udara yang kita hirup, ada orang-orang seperti Yuliana Wetuq yang rela bertaruh raga demi kelestarian alam Kalimantan.(*/Ltr1)