SANGATTA Festival Pesona Budaya (FPB) Kutai Timur (Kutim) 2025 resmi ditutup dengan perpaduan budaya dan hiburan modern yang memukau. Puncak penutupan di Lapangan Alun-alun Bukit Pelangi, Minggu (23/11/2025) malam, dimeriahkan oleh penampilan mendalam nan puitis penyanyi nasional asal Semarang Fanny Soegi yang disaksikan oleh ribuan pasang mata.

Kehadiran Fanny Soegi tidak hanya mengobati kerinduan warga Sangatta akan event hiburan besar, tetapi juga menyajikan kejutan istimewa melalui kolaborasi lintas genre bersama seniman muda Kutim, Daniel Febrian, yang memainkan alat musik tradisional Suku Dayak, Sape.

Padliyansyah, Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Kutim sekaligus Ketua Panitia, menyoroti antusiasme yang luar biasa. Ia menjelaskan bahwa kolaborasi Fanny Soegi dan alunan Sape merupakan simbol sempurna dari semangat FPB 2025 memadukan kekayaan budaya Nusantara dengan musik modern.

“Dan pada malam puncak malam hari ini kita juga akan menghibur warga Sangatta yang mungkin sudah rindu setahun ini tidak bisa menikmati keberadaan artis nasional,” ujar Padliyansyah.

Padliyansyah menambahkan, kehadiran talenta muda seperti Daniel Febrian membuktikan bahwa budaya pedalaman, khususnya Sape, sangat fleksibel dan dicintai generasi milenial.

Sementara itu, Kadisdikbud Kutim, Mulyono, mengapresiasi kolaborasi tersebut sebagai model ideal bagi pembinaan kesenian di Kutim, menekankan pentingnya menyeimbangkan pelestarian budaya dengan hiburan.

“Kami selalu mencari cara agar kesenian tradisional bisa lebih kita galakkan dan diterima luas. Kolaborasi seperti ini adalah jalan untuk melestarikan tanpa meninggalkan akar budaya kita,” kata Mulyono.

Kolaborasi ini memberikan nuansa etnik yang kaya pada deretan lagu hit Fanny Soegi. Lagu-lagu bertempo lambat seperti “Dharma” dan “Pijaraya” diselimuti melodi Sape yang melodius, menciptakan interpretasi baru yang eksotis. Puncak kolaborasi terjadi saat Daniel Febrian memberikan sentuhan Sape pada lagu fenomenal “Asmalibrasi”, yang membuat penonton terhanyut dalam suasana magis.

Fanny Soegi membawakan total delapan lagu andalan, termasuk hits seperti “Komang”, “Pijaraya”, dan “Dharma”. Keberhasilan FPB 2025, yang sukses memadukan kekayaan budaya lokal, penguatan ekonomi UMKM, dan hiburan dinamis, menjadi penutup berkesan, membuktikan bahwa seni tradisional dan modern dapat bersatu untuk memajukan pariwisata budaya daerah.(kopi5/Ltr1)