SANGATTA – Wilayah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) kembali menghadapi tantangan alam serius. Kombinasi curah hujan tinggi sejak dini hari serta fenomena pasang air laut (rob) memicu banjir yang merendam sebagian wilayah Kecamatan Sangatta Utara dan Sangatta Selatan pada Jumat (6/2/2026).
Naiknya debit air yang cepat tidak hanya melumpuhkan mobilitas warga dan aktivitas ekonomi, tetapi juga membawa risiko fatal di balik keruhnya air. Kepolisian Resor (Polres) Kutai Timur mengeluarkan peringatan keras terkait munculnya hewan predator yang kerap memanfaatkan luapan sungai untuk masuk ke kawasan padat penduduk.
Dari siaran pers yang diterima Pro Kutim, Kapolres Kutim AKBP Fauzan Arianto, turun langsung ke lapangan untuk meninjau titik-titik terdampak. Ia menegaskan bahwa karakteristik geografis Sangatta yang bersinggungan langsung dengan habitat alami reptil besar membuat kewaspadaan ekstra menjadi harga mati.
“Kami mengimbau seluruh masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan. Dalam kondisi air pasang dan banjir seperti ini, hewan predator seperti buaya dan ular sering kali naik ke pemukiman mencari tempat yang lebih tinggi atau terbawa arus sungai yang meluap,” ujar AKBP Fauzan saat memantau kondisi di lapangan.
Fenomena munculnya buaya di area publik saat banjir bukanlah hal baru di Kutim, namun risiko kali ini dianggap lebih tinggi mengingat luasnya area yang tergenang. Air yang keruh membuat keberadaan predator sulit dideteksi secara visual oleh warga awam.
Selain ancaman hewan buas, keselamatan anak-anak menjadi perhatian utama kepolisian. AKBP Fauzan meminta para orang tua untuk tidak memberikan kelonggaran bagi anggota keluarga mereka yang ingin memanfaatkan banjir sebagai sarana bermain.
“Tolong awasi anak-anak, jangan biarkan mereka berenang atau bermain air sembarangan. Kita tidak tahu apa yang bersembunyi di dalam air yang keruh tersebut,” tegas Kapolres.
Ia juga menambahkan bahwa arus bawah air bisa sangat menipu dan membahayakan bagi mereka yang tidak memiliki keahlian atau alat keselamatan yang memadai. Warga diminta segera melapor ke petugas lapangan atau melalui call center kepolisian jika melihat tanda-tanda kemunculan hewan berbahaya agar dapat ditangani oleh tim ahli.
Hingga saat ini, personel Polres Kutim terus bersinergi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan relawan setempat. Tim gabungan melakukan patroli penyisiran menggunakan perahu karet untuk memantau fluktuasi debit air sekaligus membantu evakuasi warga kelompok rentan, seperti lansia dan balita.
Kondisi cuaca di wilayah Kutim diprediksi masih belum stabil. Warga di sepanjang bantaran sungai diminta untuk tetap siaga jika debit air terus merangkak naik, terutama saat puncak pasang air laut terjadi.(*/kopi13/Ltr1)

