SANGATTA – Memperkuat tata kelola perusahaan air minum daerah menjadi urgensi bagi pengelola air bersih di Kalimantan Timur. Kamis (9/7/2026), jajaran manajemen Perumdam Tirta Taman Kota Bontang melakukan kunjungan kerja ke kantor pusat Perumdam Tirta Tuah Benua (TTB) Kutai Timur (Kutim)untuk mendalami implementasi Manajemen Risiko dan Good Corporate Governance (GCG).
Kunjungan ini bukan sekadar silaturahmi. Direktur Perumdam Tirta Taman, Suramin, secara terbuka menyebut kehadiran timnya sebagai langkah “studi tiru”. Pilihan jatuh kepada Perumdam TTB Kutim lantaran perusahaan ini dinilai sebagai acuan oleh Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) dalam aspek pengelolaan risiko dan penerapan tata kelola perusahaan yang baik.
“Kami datang untuk menimba ilmu. BPKP merekomendasikan kami belajar ke Kutai Timur karena dianggap sudah mapan dalam manajemen risiko dan GCG,” ujar Suramin di sela pertemuan.

Dalam pertemuan tersebut, Direktur Utama Perumdam TTB Kutim, Suparjan, memaparkan potret operasional perusahaan yang kini melayani 55.614 pelanggan di 18 kecamatan. Meski secara administratif cakupan pelayanan masih berada di angka 57,19 persen, secara teknis jaringan telah menjangkau 83,11 persen wilayah dari total 141 desa.
Suparjan menekankan bahwa operasional yang melibatkan 335 pegawai ini terus didorong untuk mencapai efisiensi tinggi.
“Kami terus berupaya agar setiap unit pengolahan, yang kini berjumlah 26 titik dengan kapasitas total 725 liter per detik, dapat beroperasi sesuai standar GCG yang ketat,” ungkapnya.
Di sisi lain, tantangan berbeda dihadapi oleh Perumdam Tirta Taman Bontang. Dengan 37.000 pelanggan, Bontang menghadapi stagnasi pertumbuhan jumlah pelanggan. Suramin memaparkan bahwa tantangan terbesar mereka adalah defisit air baku. Saat ini, kapasitas produksi sebesar 500 liter per detik masih jauh dari kebutuhan riil, dengan kekurangan sekitar 180 liter per detik.
“Konsumsi air masyarakat kami tergolong tinggi, mirip kota metropolitan, mencapai 30-35 meter kubik per rumah tangga per bulan,” tambah Suramin.
Diskusi semakin menarik ketika membahas upaya pemenuhan air baku. Kehadiran delegasi Bontang juga menjadi ajang koordinasi terkait pemanfaatan void (lubang bekas tambang) PT Indominco yang diharapkan mampu menjadi oase bagi krisis air di Bontang.
Selain itu, kedua pihak mendiskusikan pelayanan air bersih bagi warga di wilayah perbatasan (Sidrap). Keduanya berkomitmen untuk mengadopsi model kerja sama lintas daerah seperti yang telah sukses diterapkan oleh Kutai Kartanegara dan Samarinda guna memastikan masyarakat di area perbatasan tetap mendapatkan akses air bersih tanpa terbentur sekat administratif.
Agenda utama kunjungan ini kemudian ditutup dengan sesi transfer pengetahuan mengenai strategi mitigasi risiko yang dipaparkan Binti Usdalifah dan pilar-pilar GCG oleh Agus Sugiharto dari Perumdam TTB Kutim. Diskusi teknis yang dinamis ini diharapkan menjadi embrio kolaborasi berkelanjutan bagi kedua perusahaan daerah tersebut dalam memberikan layanan prima bagi masyarakat Kalimantan Timur.(*/Ltr1)

