Oleh: Yulius Alvian
SANGATTA- Di tengah lalu lintas padat Jalan Soekarno-Hatta, Sangatta, berdiri sebuah bangunan ibadah dengan tampilan berbeda dari kebanyakan masjid di Indonesia. Tidak ada kubah besar menjulang ataupun ornamen berlebihan. Namun justru dari kesederhanaannya, Masjid Al Ismail menghadirkan kesan teduh dan modern yang menarik perhatian masyarakat.
Masjid itu merupakan mimpi panjang Darwis, seorang perantau asal Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan, yang telah meniti kehidupan di Kalimantan sejak awal 1980-an. Setelah puluhan tahun membangun usaha dan menetap di Kutai Timur, Darwis memilih meninggalkan jejak yang tidak sekadar berbentuk bangunan, tetapi juga warisan nilai dan ibadah untuk masyarakat.

Nama “Al Ismail” dipilih sebagai bentuk penghormatan kepada almarhum ayahnya, Andi Ismail. Bagi Darwis, masjid tersebut bukan hanya tempat salat, melainkan simbol bakti seorang anak kepada orang tua yang telah menjadi fondasi perjalanan hidupnya.
“Orang tua adalah alasan saya bisa sampai di titik ini. Saya ingin nama beliau terus hidup dalam doa-doa,” ungkap Darwis.
Masjid berukuran 15 x 20 meter itu dirancang mampu menampung sekitar 300 jemaah. Meski tidak menggunakan kubah, desainnya justru menghadirkan nuansa elegan dan terbuka. Konsep tersebut terinspirasi dari Masjid Al Fattah di Tulungagung, Jawa Timur, yang dikenal dengan arsitektur sederhana namun tetap kuat menghadirkan identitas keislaman modern.

Pilihan desain tanpa kubah bukan semata ingin tampil berbeda. Darwis ingin menunjukkan bahwa masjid dapat hadir dengan pendekatan arsitektur yang lebih fungsional, sejuk, dan dekat dengan kebutuhan zaman tanpa meninggalkan nilai spiritualnya.
Pembangunan Masjid Al Ismail dimulai sejak Oktober 2024 dan ditargetkan rampung tahun ini. Proses pengerjaannya dilakukan bertahap dengan perhatian pada kenyamanan jemaah serta kualitas bangunan agar dapat dimanfaatkan dalam jangka panjang.
Di usia yang tak lagi muda, Darwis mengaku ingin meninggalkan manfaat yang terus mengalir bagi masyarakat. Setelah puluhan tahun merantau dan membangun usaha di Kalimantan, ia merasa sudah saatnya menghadirkan sesuatu yang dapat menjadi amal jariyah bagi keluarga sekaligus ruang ibadah bagi umat.
Menurutnya, generasi muda tidak boleh takut merantau dan memulai dari bawah selama memiliki niat baik serta kemauan bekerja keras.
“Jangan malu memulai dari kecil. Kalau kita mau bekerja keras, menjaga kejujuran, dan menghormati orang tua, insya Allah hidup akan menemukan jalannya sendiri,” pesan Darwis kepada generasi muda.
Kehadiran Masjid Al Ismail juga menjadi warna baru bagi perkembangan arsitektur rumah ibadah di Kutai Timur.
Di tengah berkembangnya kawasan perkotaan Sangatta, masjid tersebut diharapkan bukan hanya menjadi tempat salat, tetapi juga ruang berkumpul, belajar, dan mempererat kebersamaan masyarakat.
Bagi Darwis, kemegahan masjid bukan terletak pada kubah atau ornamen mewah, melainkan pada seberapa besar manfaat yang dapat dirasakan umat.
Dan dari sebuah bangunan tanpa kubah itu, tersimpan kisah panjang seorang perantau tentang kerja keras, penghormatan kepada orang tua, dan harapan agar kebaikan terus mengalir lintas generasi.

