TELUK PANDAN – Sorot lampu panggung di Taman Desa Teluk Pandan, Kecamatan Teluk Pandan, Kamis (2/4/2026) malam, seolah menjadi titik tumpu bagi ribuan warga yang datang mencari kesejukan batin. Di sana, Ustaz Das’ad Latif berdiri, bukan sekadar sebagai penceramah, melainkan sebagai penutur realitas sosial yang kerap terlupakan di tengah riuh rendah kehidupan pascapemilu dan kepungan dunia digital.
Pendakwah yang juga merupakan akademisi Ilmu Komunikasi Universitas Hasanuddin ini membawa pesan sentral tentang esensi Halalbihalal. Dalam retorika khasnya—jenaka dengan dialek Bugis yang kental namun tetap tajam—Das’ad menegaskan bahwa ritual maaf-memaafkan adalah penyempurna ibadah Ramadhan yang tidak bisa ditawar.
“Dosa kepada Sang Pencipta mungkin terhapus lewat puasa dan zakat. Namun, urusan antarmanusia hanya tuntas dengan maaf yang tulus. Halalbihalal adalah istilah Arab yang hanya lahir di Indonesia; maknanya menghalalkan kembali yang sempat retak,” tutur Das’ad di hadapan jemaah yang menyemut hingga ke tepi taman.
Salah satu poin krusial yang digarisbawahi oleh pria kelahiran Polewali Mandar ini adalah luka sosial akibat kontestasi politik. Das’ad menyayangkan jika perbedaan pilihan dalam pemilihan kepala daerah (Pilkada) maupun pemilihan legislatif (Pileg) harus mengorbankan hubungan bertetangga yang telah lama terbina.
Ia mengingatkan jemaah bahwa dalam situasi genting atau musibah, tetangga adalah pihak pertama yang akan mengulurkan tangan, melampaui tokoh politik atau pejabat yang jauh dari jangkauan keseharian.
“Sangat keliru jika karena urusan Pilkada kita bermusuhan dengan tetangga. Tim sukses boleh punya kepentingan, tetapi warga jangan sampai membiarkan diri mereka terpecah,” tegasnya.
Persoalan batiniah lain yang disentil adalah penyakit prasangka buruk (su’udzon). Das’ad menilai kebahagiaan rumah tangga kerap tergerus oleh rasa curiga yang berlebihan, salah satunya lewat kebiasaan memeriksa ponsel pasangan yang justru merusak ketenangan batin.
Di era teknologi informasi, Das’ad juga melontarkan kritik terhadap fenomena “Islam pencitraan”. Ia menyoroti jemaah yang acap kali lebih sibuk melakukan siaran langsung (live streaming) melalui ponsel ketimbang menyimak esensi nasihat yang disampaikan.
Baginya, kekhusyukan ibadah dan pengajian seringkali terdistraksi oleh keinginan untuk eksis di dunia maya.
“Setan paling tidak suka jika kita hadir di pengajian karena rahasianya terbongkar. Maka, ia menggoda lewat HP di tangan. Simpan dulu perangkat itu, masuklah ke dalam Islam secara kaffah (sempurna), bukan sekadar gimik,” ujar Das’ad yang disambut tawa reflektif dari jemaah.
Tausiah malam itu ditutup dengan ajakan bersalawat bersama, sebuah momen kolektif yang diharapkan mampu membasuh sisa-sisa dendam politik dan prasangka. Melalui agenda ini, Pemerintah Desa Teluk Pandan berharap warganya dapat merajut kembali sendi-sendi persaudaraan yang sempat merenggang, membawa masyarakat kembali pada fitrah kemanusiaan yang bersih.(Ltr1)

