TELUK PANDAN – Taman Desa Teluk Pandan di Kecamatan Teluk Pandan, Kutai Timur, menjadi saksi perubahan suasana yang kontras pada Kamis (2/4/2026) malam. Jika tahun-tahun sebelumnya lokasi ini identik dengan keriuhan musik hiburan, kali ini ribuan warga datang untuk mencari ketenangan batin dalam silaturahmi Halalbihalal 1447 Hijriah yang menghadirkan pendakwah asal Makassar, Ustaz Das’ad Latif.
Kehadiran sosok penceramah yang dikenal lugas dan akademis tersebut tak hanya memikat masyarakat awam, tetapi juga menyatukan jajaran pimpinan daerah. Bupati Kutai Timur Ardiansyah Sulaiman, Wakil Bupati Mahyunadi, hingga jajaran Forkopimda dan perwakilan legislatif duduk bersama warga di area terbuka tersebut.
Kepala Desa Teluk Pandan, Andi Herman Fadli, menyebutkan bahwa kehadiran Ustaz Das’ad merupakan manifestasi dari kerinduan kolektif warganya. Selama tiga tahun terakhir, pemerintah desa menangkap kegelisahan masyarakat yang menginginkan sentuhan nilai spiritual ketimbang sekadar hiburan panggung artis ibu kota.
“Warga menyampaikan kepada saya, jangan hanya artis yang diundang. Mereka merindukan kesejukan rohani. Malam ini doa warga desa kami terjawab, dan suasananya terasa jauh lebih meneduhkan,” tutur Andi.
Namun, di balik kekhidmatan acara tersebut, terselip kegelisahan pragmatis yang telah menghantui warga selama puluhan tahun. Di hadapan para pengambil kebijakan, Andi menyuarakan nasib pemukiman warga yang hingga kini masih terjepit dalam status kawasan Taman Nasional Kutai (TNK).
Persoalan administratif ini bukan isu baru; ia adalah warisan konflik lahan yang telah melintasi generasi, mulai dari era kepemimpinan ayah Andi hingga masa jabatan dirinya sekarang. Status kawasan hutan membuat warga merasa hak atas tanah mereka belum sepenuhnya diakui oleh negara.
“Kami hidup di atas tanah yang statusnya masih kawasan hutan. Secara batin, kami belum merasa merdeka sepenuhnya. Beban moral terbesar kami adalah jangan sampai mewariskan sengketa lahan ini kepada anak cucu di masa depan,” tegas Andi dengan nada serius.
Andi menilai, kunci penyelesaian masalah agraria yang kompleks ini terletak pada kuatnya posisi tawar masyarakat di ranah legislatif. Ia menekankan bahwa Teluk Pandan membutuhkan representasi putra daerah di DPRD Kabupaten Kutai Timur yang memiliki ikatan emosional dan pemahaman mendalam terhadap konflik lahan tersebut.
Ia mendorong masyarakat untuk melihat kapasitas dan integritas calon pemimpin, bukan terjebak pada pragmatisme politik materi. “Kita membutuhkan wakil yang berani berjuang untuk hak-hak warga. Tolong, jangan lihat ‘isinya’ (materi), tapi lihat kapasitasnya. Banyak putra daerah yang cerdas dan berani yang bisa kita dorong,” tambahnya.
Rangkaian acara ditutup dengan ceramah Ustaz Das’ad Latif yang menekankan pentingnya sinergi antara pemimpin dan rakyat. Pesan kebersamaan ini menjadi penutup yang relevan di tengah harapan warga Teluk Pandan untuk mendapatkan kepastian hukum atas tanah tempat mereka bernaung.(Ltr1)

