SANGATTA – Pelataran indoor Masjid Agung Al Faruq, Bukit Pelangi, menjadi saksi ribuan pasang mata jemaah dari kawula hingga orang tua dan spesialnya dihadiri Bupati Kutai Timur (Kutim) Ardiansyah Sulaiman bersama sang istri yang juga Ketua TP PKK Kutim Siti Robiah Ardiansyah tertegun menyimak narasi berbeda tentang makna kemewahan dan kesehatan mental. Pada Minggu (26/4/2026) pagi, pendakwah Ustaz Hanan Attaki membedah konsep life hacks ala Nabi Muhammad SAW yang relevan dengan problematika manusia modern yaitu pelarian dari kebisingan digital menuju dekapan alam. Sebelumnya Hanan sudah mengisi tausiah di Gedung Buana Mekar Jalan Yos Sudarso I, Sabtu (25/4/2026) malam dan dihadiri Wakil Bupati Kutim Mahyunadi.
Dalam tausiahnya, Hanan mengajak jemaah untuk mengubah perspektif (point of view) mengenai standar kemewahan. Baginya, rumah mewah bukanlah bangunan bertingkat dengan tembok beton yang tebal, melainkan hunian yang selaras dengan alam atau nature friendly.

Hanan membedah sirah Nabi Muhammad SAW dengan kacamata etologi dan arsitektur sehat. Ia menjelaskan bahwa rumah Nabi yang terbuat dari unsur tanah bukan sekadar simbol kezuhudan atau kemiskinan, melainkan sebuah konsep hunian tingkat tinggi yang mendukung kesehatan fisik dan mental.
“Bangunan yang paling sehat itu terbuat dari unsur tanah yang belum bercampur elemen kimia. Itulah kenapa Nabi sehat dan bahagia, karena rumahnya grounding,” ungkap Hanan.
Ia mengkritik modernitas yang mengisolasi manusia dari alam. Penggunaan penyejuk udara (AC) artifisial, menurutnya, tidak akan pernah bisa menggantikan oksigen dan ketenangan yang dihasilkan dari rimbunnya pepohonan. Hanan menyarankan jemaah untuk menjadikan pohon sebagai “AC alami” di rumah masing-masing.
“Kenapa hari ini kita terluka secara mental susah sembuhnya? Karena kita healing-nya di ruang ber-AC, pakai sepatu, dan jauh dari alam. Harusnya healing itu dengan angin dari pohon,” tambahnya.

Sisi menarik dari tausiah ini adalah ajakan Hanan untuk berhenti mengeksploitasi hewan demi kesenangan pribadi. Ia mencontohkan hobinya melihat burung. Alih-alih mengurung burung dalam sangkar, Hanan memilih membangun ekosistem dengan menanam pohon dan menyediakan air minum agar burung datang dengan sukarela.
“Kalau ingin dengar kicauan burung, tanam pohon, nanti mereka datang. Itu jauh lebih indah daripada melihat burung yang stres di dalam sangkar. Itu cara yang lebih friendly,” tuturnya.
Menutup kajiannya, Ustaz Hanan Attaki memperkenalkan kembali konsep khalwah atau yang kini populer dengan istilah me time. Ia mengingatkan bahwa rahasia utama dari khalwah adalah keheningan (silence), bukan sekadar menyendiri sambil sibuk dengan gawai.
Ia menyoroti betapa berisiknya media sosial yang penuh dengan informasi kontroversial dan toksik. Menurutnya, scrolling di media sosial bukanlah bentuk menyendiri, melainkan menambah kebisingan (noise) dalam pikiran.
“Otak kita akan sembuh dalam keheningan, dalam diam, dan kesendirian. Ia tidak bisa sembuh jika penuh dengan noise toksik di sekelilingnya,” tegas Hanan.
Ia merujuk pada kisah Nabi yang memilih tahannuts atau menyendiri ketika lelah menghadapi tekanan mental dari masyarakat jahiliah. Baginya, saat malam telah larut dan kegaduhan mereda, di situlah manusia paling mudah memahami ucapan-ucapan baik dan berdialog dengan Tuhan.(Ltr1)

