SANGATTA – Di bawah guyuran lampu panggung yang berkelindan dengan pekatnya malam, sesosok pria dengan gitar di pelukan berdiri tegak. Jemari Dewa Budjana menari di atas dawai, mengirimkan deru distorsi yang seolah membelah udara Lapangan Alun-Alun Swarga Bara, Sabtu (25/4/2026) malam.
Bagi ribuan pasang mata yang memadati area tersebut, bunyi gitar itu bukan sekadar musik. Ia adalah sebuah jawaban atas penantian yang sempat tertunda selama hampir empat tahun.
Malam itu, perayaan hari jadi ke-44 PT Kaltim Prima Coal (KPC) berubah menjadi panggung rekonsiliasi emosional. Publik “Bumi Untung Benua” akhirnya menyaksikan Gigi dalam format paling murni. Kenangan pahit Oktober 2022, saat Budjana terpaksa absen posisinya diganti Karis (gitaris dari band metal Dead Squad) di panggung HUT ke-23 Kutai Timur (Kutim) karena komitmen di Jakarta, resmi terkubur. Kali ini, tak ada pemain pengganti. Gigi datang sebagai satu kesatuan utuh yang perkasa.

Armand Maulana, sang motor panggung, tampil seolah-olah waktu berhenti berputar baginya. Ia melompat, berlari, dan meneriakkan bait demi bait lagu dengan vitalitas yang meluap-luap. Di belakangnya, dentuman drum Gusti Hendy yang presisi bersahutan dengan cabikan bas Thomas Ramdhan yang “galak”, menciptakan fondasi beton bagi petikan magis Budjana.
“Terima kasih KPC, Gigi akhirnya bisa kembali lagi ke Sangatta. Selamat ulang tahun ke-44, semoga terus maju dan menyejahterakan karyawannya,” pekik Armand di sela-sela dentuman setlist yang memicu adrenalin.
Gigi tidak memberikan ruang bagi penonton untuk sekadar diam. Konser dibuka dengan hentakan “Don’t Stop”, materi anyar yang membuktikan bahwa taring mereka belum tumpul. Tanpa jeda berarti, nomor-nomor legendaris seperti “Perdamaian” hingga “Terbang” segera mengubah lapangan menjadi lautan suara manusia yang bersahutan (sing-along).

Namun, Sangatta tidak hanya disuguhi nostalgia. Armand memberikan kejutan dengan membawakan “Menari-nari” dan “Priyayi”, dua lagu segar dari album yang bahkan belum resmi dilempar ke pasar. Publik Sangatta pun didapuk menjadi salah satu saksi pertama yang mencicipi aransemen anyar tersebut secara langsung.
Suasana semakin intim saat nomor-nomor melankolis seperti “My Facebook” dan “11 Januari” mengalun. Lapangan Swarga Bara mendadak berubah menjadi ruang nostalgia raksasa bagi lintas generasi saat tembang lawas “Nirwana dan “Janji” dilepas. Dari mereka yang tumbuh besar dengan kaset pita hingga milenial yang akrab dengan layanan streaming, semuanya terhanyut dalam koor yang sama.
Menjelang tengah malam, tensi justru semakin memuncak. Lagu-lagu penuh energi seperti “Nakal”, “Jomblo”, dan “Pintu Sorga” membuat massa tak berhenti berjingkrak. Pesta bertajuk “44 Years of Challenge: Sehat, Efisien, dan Produktif” ini akhirnya mencapai titik didih saat lagu “Ya Ya Ya” berkumandang sebagai penutup.
Semburan konfeti (ledakan kertas panggung) yang meluncur ke langit Sangatta menjadi simbol paripurnanya sebuah perayaan. Malam itu, Gigi dan KPC seolah mengirimkan pesan serupa, usia hanyalah tumpukan angka di atas kertas. Selama semangat untuk berkarya dan memberi manfaat tetap menyala, produktivitas tak akan pernah padam oleh waktu. Di Swarga Bara, harmoni tercipta bukan hanya dari nada, melainkan dari rindu yang akhirnya tertuntaskan dengan sempurna.(Ltr1)

