SANGATTA – Sebanyak 170 calon jemaah haji (Calhaj) Kabupaten Kutai Timur (Kutim) mengikuti manasik haji terintegrasi tingkat kabupaten yang digelar Kantor Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Kutim, Sabtu (4/4/2026). Kegiatan bertema “Haji Ramah Lansia, Disabilitas dan Ramah Perempuan” itu dibuka Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman di Aula Kantor Kemenhaj Kutim.
Dalam sambutannya, Ardiansyah mengingatkan pentingnya meluruskan niat dalam menunaikan ibadah haji. Ia menegaskan bahwa haji harus dilaksanakan semata-mata karena Allah SWT, bukan untuk mengejar gelar atau kebanggaan pribadi.
“Haji itu bukan untuk gagah-gagahan atau sekadar mendapat gelar. Semua harus diniatkan karena Allah,” ujar Ardiansyah.
Selain itu, ia juga mengimbau para jemaah untuk menjaga kondisi kesehatan sejak dini. Menurutnya, rangkaian ibadah haji membutuhkan kesiapan fisik yang baik, mengingat adanya berbagai tahapan pemeriksaan kesehatan sebelum keberangkatan hingga setibanya di Arab Saudi.
“Latihan fisik itu penting, karena kondisi di Makkah nanti menuntut kekuatan. Jangan dianggap sepele, karena itu bagian dari upaya menyempurnakan ibadah,” tegasnya.
Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Wilayah Kemenhaj Provinsi Kalimantan Timur, Mukhlis Hasan, menyinggung situasi geopolitik di kawasan Timur Tengah yang sempat menimbulkan kekhawatiran. Meski demikian, ia memastikan hingga saat ini Pemerintah Arab Saudi belum mengeluarkan kebijakan penundaan penyelenggaraan ibadah haji maupun umrah.
“Kita tetap mengikuti jadwal yang telah ditetapkan. Penyelenggaraan haji berjalan sebagaimana rencana, sehingga jemaah diminta tetap tenang namun tetap waspada,” ujarnya.
Mukhlis menambahkan, tahun ini menjadi momentum penting karena penyelenggaraan haji berada di bawah Kementerian Haji dan Umrah, yang sebelumnya ditangani Kementerian Agama. Kendati terjadi perubahan kelembagaan, ia memastikan pelayanan kepada jemaah tetap menjadi prioritas utama.
Untuk Embarkasi Balikpapan, lanjutnya, tahun ini akan melayani jemaah dari empat provinsi, yakni Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Utara. Khusus jemaah Kutim akan tergabung dalam satu kelompok terbang (kloter) bersama daerah lain sehingga diperlukan kemampuan adaptasi selama perjalanan.
“Secara umum, dokumen jemaah sudah siap hampir 100 persen. Ini menunjukkan kesiapan kita semakin matang,” katanya.
Sebelumnya, Kepala Kemenhaj Kutim Basmawati Sija melaporkan, jumlah jemaah haji asal Kutim yang siap diberangkatkan tahun ini sebanyak 170 orang. Jumlah tersebut merupakan penyesuaian dari total awal 171 jemaah, setelah satu orang mengundurkan diri karena kondisi kesehatan.
“Awalnya jumlah jemaah kita sebanyak 171 orang, namun terdapat satu jemaah yang mengundurkan diri karena faktor kesehatan yang mengharuskan menjalani perawatan intensif, sehingga jumlah akhir menjadi 170 jemaah,” jelasnya.
Ia merinci komposisi jemaah terdiri dari 158 jemaah reguler, tiga jemaah lanjut usia (lansia), tiga pendamping lansia, serta lima jemaah dalam kategori penggabungan mahram. Selain itu, terdapat empat petugas haji yang akan mendampingi jemaah selama perjalanan hingga pelaksanaan ibadah di Tanah Suci, sehingga total rombongan mencapai 174 orang.
Basmawati menambahkan, jemaah haji Kutim tergabung dalam Kelompok Terbang (Kloter) 6 Embarkasi Balikpapan bersama jemaah dari Kabupaten Kutai Kartanegara dan Sulawesi Utara. Sinergi antarjemaah dalam satu kloter diharapkan dapat memperkuat kebersamaan selama pelaksanaan ibadah.
“Jemaah direncanakan berangkat dari Sangatta pada 3 Mei 2026, kemudian masuk Asrama Haji Embarkasi Balikpapan pada 4 Mei 2026 sekitar pukul 07.00 Wita sebelum diberangkatkan ke Arab Saudi,” ujarnya.
Melalui kegiatan manasik ini, pemerintah berharap seluruh jemaah dapat memahami tata cara pelaksanaan ibadah haji secara baik, sehingga pelaksanaan haji 2026 berjalan lancar, aman, dan seluruh jemaah Kutim dapat kembali ke Tanah Air dengan predikat haji mabrur.(kopi14/kopi13/Ltr1)

